Ad Code

Priyayi 3 Sub Budaya Mojokuto Clifford Geertz 3

Priyayi adalah varian lain pengelompokan identitas yang dilakukan Geertz atas penduduk ‘Mojokuto.’ Di antara tiga kategorisasi Geertz atas orientasi hidup penduduk “Mojokuto”, Priyayi adalah yang paling kabur dan sulit dijelaskan, berbeda dengan Abangan dan Santri yang kontras.

Geertz menjelaskan Priyayi dengan mengutip karya Robert Redfield The Primitive World and Its Transformations terbitan tahun 1954. Terdapat suatu elit budaya yang mendasarkan kekuasaanya pada kendali mereka atas sumber daya yang bersifat simbolik di dalam masyarakat. Sumber daya tersebut adalah agama, filsafat, seni, ilmu pengetahuan, dan budaya tulis-menulis. Kontras dengan para elit ini, terdapat kelompok petani yang sepenuhnya bekerja keras. Kelompok petani ini merupakan subordinat dari para elit budaya, sehingga para elit dengan kendali mereka atas sumber daya simbolik dalam masyarakat dalam mengendalikan suplay makanan yang dihasilkan para petani tersebut. Hubungan elit dengan petani ini bersifat simbiotik dan satu sama lain saling bergantung.

Geertz juga menyebut para petani melakukan “vulgarisasi” (pengkasaran) atas sesuatu yang “getry” (bersifat halus). Selalu terjadi dialog antara “gentry” dengan “vulgarisasi.” Budaya urban diserap oleh budaya rural lalu kehilangan ciri khas, di sisi lain budaya rural merasuk ke budaya urban lalu diserap oleh mereka. Secara singkat, dalam menjelaskan Priyayi, Geertz kemudian mengkonstraskan antara kelas berkuasa yang melek huruf dengan kelas dikuasai yang buta huruf. Dari penjelasan awal seperti ini barulah Geertz melangkah pada penjelasan mengenai Priyayi.

Abangan adalah wujud dari hidup pertanian Jawa, merepresentasikan “vulgarisasi.” Pada kutub lain Priyayi adalah manifestasi dari “gentry.” Agama kaum Abangan merepresentasikan sintesis petani atas aspek impor dari budaya urban dan warisan kesukuan. Priyayi utamanya terdapat di wilayah perkotaan. Untuk kalangan Priyayi, label kebangsawanan menjadi kurang berarti. Secara asal-usul, Priyayi adalah orang yang dapat melacak leluhurnya hingga para raja semi dewa sebelum masa kolonial. Namun, sejak pemerintahan kolonial Belanda, Priyayi dimanfaatkan oleh mereka untuk menjalankan aneka fungsi administratif dalam mengimplementasikan kebijakan kolonial.

Konsep sentral dalam kelompok Priyayi adalah alus dan kasar. Keduanya mencerminkan pandangan hidup kelompok ini. Alus bermakna murni, halus, dipoles, sopan, indah, beradab. Orang yang bicara dengan bahasa Jawa “tinggi” disebut alus. Tuhan sendiri dimaknai sebagai bersifat alus. Di sisi lain kasar adalah lawan dari alus yaitu bermakna tidak sopan, kasar, tidak beradab, musik yang dimainkan dengan buruk, lelucon bodoh, sepotong kain murahan. Di antara kontinum alus hingga kasar ini Priyayi membagi manusia dari raja hingga petani.

Cara pandang lain Priyayi berkenaan denga dikotomi lair dan batin. Batin bermakna alam pengalaman batiniah manusia, sementara lair adalah alam luar perilaku manusia. Batin merujuk pada inner life manusia, sementara lair merujuk pada manifestasi tindakan seperti berbicara, bergerak, dan bertindak.



Priyayi. Sumber Foto: 
https://www.unpaders.id/read/2020/05/20/211/kebangkitan-priyayi-jawa-

Geerz mengakui orientasi keagamaan Priyayi lebih sulit dideskripsikan ketimbang Abangan dan Santri. Ini akibat perubahan politeisme Asia Tenggara (atau animisme) ke arah monoteisme Timur Tengah. Dengan demikian masalah pendeskripsian orientasi keagamaan Priyayi bukan semata peralihan dari panteisme Hindu-Buddha. Secara umum Priyayi dan Abangan melambangkan dua kontras antara “gentry” dan “vulgar.” Secara umum, Priyayi dan Abangan memiliki cara pandang dunia yang mirip, perbedaan adalah di masalah “alus” dan “kasar” atau “gentry” dan “vulgar.” Priyayi merujuk pada para “raja” sementara Abangan merujuk pada para “petani.”

Priyayi menengah hingga tinggi cenderung berbicara dalam bahasa Belanda ketimbang Jawa. Bahasa Jawa umumnya digunakan untuk memerikan perintah pada para sahaya dan tidak mengerti bahasa Belanda. Para Priyayi inilah yang banyak menerima keuntungan akibat Politik Etis Belanda, terutama di bidang pekerjaan dan pendidikan. Mereka pun berkesempatan untuk mengujungi “Mekahnya” Barat yaitu Belanda.

Priyayi juga memiliki tiga unsur utama dimensi “agama” mereka yaitu etiket, seni, dan praktek mistik. Etiket, adalah pemolesan perilaku hubungan antarpribadi agar berlangsung dalam tata krama yang halus, memberikan formalitas spiritual pada perilaku sehari-hari. Seni adalah disiplin ganda antara pikiran dan tubuh, memberikan pengungkapan makna batiniah dalam gerakan lahiriah. Praktek mistik adalah pengaturan intensif kehidupan pikiran dan perasaan, yang mengatur sumber-sumber spiritual individu untuk menyongsong pencerahan tertinggi. Ketiga unsur tadi dikoneksikan satu sama oleh konsep rasa.

Rasa memiliki dua arti yaitu “mencerap” dan “memaknai.” Mencerap dilakukan melalui lima indera (panca indera) seperti melihat, mendengar, berbicara, membaui, dan meraba. Dengannya juga termasuk tiga aspek “mencerap” yaitu merasa dengan lidah, menyentuh tubuh, dan “cerapan” emosional di dalam hati (sedih, gembira, marah). Pisang, pelukan, derita, gembira, semua adalah rasa. Sebagai “memaknai” rasa diaplikasikan ke dalam kata-kata, baik di prosa, puisi, juga pidato. Dengan menggunakan rasa untuk memberi arti baik pada “mencerap” dan “memaknai” Priyayi mampu mengembangkan analisis fenomenologis seputar pengalaman subyektif dengan mana semua hal bisa dikaitkan dengannya.

Dalam berbahasa Priyayi mengenal adanya tiga level bahasa mereka yaitu krama inggil, krama biasa, dan krama madya. Apa yang disebut oleh Priyasi sebagai “bahasa” adalah ketiga ini. Namun, bagi Priyayi kelas tinggi hanya krama inggil dan krama biasa yang dianggap sebagai bahasa. Ngoko madya dan ngoko biasa adalah jenis lain bahasa Jawa. Priyayi juga biasanya menggunakan ngoko alus atau ngoko sae dalam berbahasa. Dengan demikian, krama, madya, dan ngoko adalah tiga level utama yang mengekspresikan status atau familiaritas yang tersedia bagi para pembicara bahasa.

Wayang juga suatu budaya yang disalingberbagikan antara Abangan dan Priyayi. Bagi Abangan, wayang merupakan pola keagamaan yang bersifat ritualistik-politeistik-magis. Bagi Priyayi, wayang merupakan pola keagamaan yang bersifat mistik-panteistik-spekulatif. Bagi Abangan, wayang adalah drama populer dari para pahlawan legendaris. Wayang juga kerap merupakan bagian dari penyelenggaraan slametan. Bagi Priyayi, sejumlah aspek ritualistik dari wayang masih cukup penting. Namun, jika Abangan masuk langsung ke dalam pengalaman inner dari wayang, Priyayi mulai mensekularisasikan wayang yaitu dengan melakukan aneka interpretasi atas apa yang ada di dalam pergelaran wayang. Dalam wayang, Priyayi mengembangkan konsep mereka yang tiga itu: etiket, seni, dan praktek mistik.

Mengenai praktek mistik, Geertz mencatat di “Mojokuto” terdapat lima sekte mistik yaitu Budi Setia, Kawruh Bedja, Sumarah, Ilmu Sedjati, dan Kawruh Kasunjatan. Sekte yang eksklusif dipartisipasi oleh Priyayi hanya Budi Setia, Kawruh Bedja, dan Sumarah. Di antara sekte-sekte ini, Priyayi memegang posisi sebagai guru, kendati mayoritas pengikutnya adalah Abangan.

Banyak orang Jawa, baik dari kalangan Abangan maupun Priyayi masih melakukan puasa Senin dan Kamis. Untuk tetap terjaga selama malam hari, terutama di hari raya, membantu seseorang untuk tetap muda dan berusia panjang. Bagi Abangan dan Priyayi, di antara ritual Islam yang paling menarik adalah puasa. Seorang Priyayi menyatakan “kendati puasa itu bersifat Islam, tetapi itu adalah latihan cemerlang baik untuk tubuh maupun jiwa.”

... artikel sebelumnya:


Sumber Bacaan

Clifford Geertz, The Religion of Java. London: The Free Press, 1960, pp. 227 – 352.
Reactions

Posting Komentar

0 Komentar