Ad Code

Politik Tanah Jawa Bagian 4

Tahun 1703 Amangkurat II wafat dan putra mahkota naik tahta sebagai Amangkurat III (1703–1734). Di awal tahta, Amangkurat III berselisih dengan pamannya, Pangeran Puger. Perselisihan mendorong Puger lari ke Semarang lalu bersekutu dengan VOC. Karena Amangkurat III bersekutu dengan Surapati, Puger-VOC menyatakannya sebagai common enemy. Juni 1704, VOC mengakui Puger sebagai Susuhunan Pakubuwana I yang dijabatnya 1704–1719. Peristiwa ini mendorong pecahnya Perang Suksesi Jawa I , berlangsung 1704–1708. [35]

Pasca konsolidasi politik dengan pimpinan wilayah pesisir, pasukan Pakubuwana I – kini terdiri atas gabungan orang Jawa, Madura, serdadu VOC berkebangsaan Eropa, Bugis, Makassar, Bali, Melayu, Banda, Ambon, dan kaum mardijkers [36] – menyerang Kartasura. Pasukan di bawah Amangkurat III berkhianat lalu bergabung dengan Pakubuwana I. Pengkhianatan memaksa Amangkurat III lari dari Kartasura. September 1705 Pakubuwana I berhasil mencengkeram Kartasura.

Dalam pelarian, Amangkurat III bergabung dengan Surapati. Gabungan keduanya memecahkan serangkaian perang pada 1706, 1707, dan 1708. [37] Tahun 1706, Surapati terbunuh di Bangil. Tahun 1707 Pasuruan ditaklukan Kartasura yang membuat Amangkurat III dan keturunan Surapati lari ke Malang. Akhirnya, Amangkurat III menyerahkan diri ke VOC tahun 1708, dibuang ke Srilangka, dan meninggal pada 1734.

Tahun 1705 dicapai perjanjian Pakubuwana I dengan VOC. Perjanjian lebih menguntungkan VOC. Akibatnya, politik internal Kartasura terbelah. Muncul kelompok yang enggan bergabung dengan Pakubuwana I seperti ditunjukkan tahun 1712 oleh Cakraningrat III dari Madura Barat dan tahun 1714 oleh Jayapuspita dari Surabaya. Sebagai protes, keduanya tidak lagi mau datang ke Kartasura. 

Tahun 1717, Surabaya bersekutu dengan tentara Bali lalu memberontak pada Kartasura. Pemberontakan berhasil dipadamkan VOC pada 1718. Di tahun yang sama muncul pemberontakan di Magetan, Madiun, Ponorogo, dan Jagaraga. Untuk memadamkan, Pakubuwana I mengirim putranya Pangeran Dipanegara. Namun, Dipanegara malah berbalik, memberontak pada pengirimnya bahkan, diangkat raja oleh kalangan pemberontak bergelar Panembahan Erucakra (ratu adil). [38]

Saat kuasa Mataram di timur beruntuhan, tahun 1719 Pakubuwana I wafat. Putranya, Amangkurat IV naik tahta, berkuasa 1719–1726. Bagi VOC, Amangkurat IV dianggap penguasa yang telah ditinggalkan rakyatnya serta dimusuhi seluruh dunia Jawa. [39] Terbukti, tahun 1719 itu juga adik-adik Amangkurat IV (Pangeran Blitar dan Pangeran Purbaya) menyerang Kartasura. 

Serangan memperoleh simpati Ratu Pakubuwana, ibu ketiga bersaudara. VOC menghalau serangan Pangeran Blitar dan Purbaya. Bersama pengikutnya, keduanya melarikan diri ke Mataram. Paman mereka, Arya Mataram, juga tidak menyukai Amangkurat IV. Setelah konsolidasi politik pesisir utara, ia memproklamasikan diri sebagai raja tandingan. Proklamasi Arya Mataram memicu Perang Suksesi Jawa II (1719–1723). [40] Hanya VOC yang mampu menyelamatkan Amangkurat IV. Pada Maret 1726, Amangkurat IV wafat karena racun. Tahta digantikan putranya, Pakubuwana II, berkuasa 1726–1749.

Pakubuwana II naik tahta usia 16 tahun. Di awal pemerintahan ia berada di bawah bayang ibunya (Ratu Amangkurat), Patih Danureja, dan neneknya (Ratu Pakubuwana) yang sufi saleh. Pakubuwana II membayar utang-utang pendahulunya pada VOC. Praktis tersisa hanya hutang Pakubuwana I, berupa ganti rugi biaya VOC dalam Perang Suksesi Jawa II dan sepertiga hutang saat menaikkan Pakubuwana I ke jabatan raja. Intrik politik tingkat tinggi melingkupi singgasana Pakubuwana II.


Perjanjian Giyanti
Sumber Foto:
https://www.jogjacompasstours.com/mangkunegaran-palace-surakarta-solo/

Patih Danureja membiakkan kekuasaan pribadi. Ia bermusuhan dengan Aria Mangkunegara, saudara lelaki Pakubuwana II. Akibat rekayasa Danureja, Mangkunegara dibuang VOC ke Batavia, Srilangka, dan Tanjung Harapan. Kini istana dikuasai raja impulsif dan patih berbahaya. Ratu Pakubuwana turun tangan mengatasi Danureja, membelokkan intrik politik istana kepada pencitraan Pakubuwana II selaku raja-sufi teladan. Di bawah pengaruh Ratu Pakubuwana, proses Islamisasi berlangsung. Ratu membentuk faksi Islam, faksi politik yang dilandasi moralitas Islam. Faksi ini berhadapan dengan faksi Danureja sebagai lawan terkemuka.

Moralitas Pakubuwana II ditunjukkan lewat konsistensinya membayar utang pada VOC. Konsistensi terus berlangsung hingga putus hubungan keduanya tahun 1741. Setelah Ratu Pakubuwana wafat, kebijakan faksi Islam diteruskan Pangeran Purbaya dan Patih Natakusuma, adik ipar raja. 

Tahun 1737, Pakubuwana II mengangkat Purbaya jadi patih kedua, berdampingan dengan Natakusuma. Hubungan Pakubuwana II dan Purbaya merenggang setelah istri Pakubuwana II (saudari Purbaya) wafat. Pakubuwana II menyerahkan Purbaya pada VOC. VOC pada Nopember 1738 membuang Purbaya ke Srilangka. VOC menghendaki raja juga membuang Natakusuma, tokoh kunci konspirasi anti VOC istana. Sayang, keinginan tersebut justru menyulut kebencian raja atas VOC.

Tahun 1738, Cakraningrat IV (penguasa timur Mataram) menolak sowan kendati Pakubuwana II memerintahkannya. Cakraningrat IV bahkan menyatakan kehendak menjadikan VOC sekutu politik. Kompensasi yang diminta Cakraningrat IV adalah dukungan VOC bagi keinginannya lepas dari Kartasura. 

Di sisi lain, VOC menghadapi masalah populasi Cina yang terus datang ke Jawa. Banyak diantara mereka jadi pengangguran lalu bergabung dengan gerombolan kriminal di sekitar Batavia. Selain itu, sejak 1721 VOC telah mengendus konspirasi kalangan Cina yang anti VOC. Konspirasi bertujuan membunuhi orang Eropa di Batavia. Konspirasi dipicu kekhawatiran orang Cina mereka akan dibuang ke laut lepas oleh VOC dari atas kapal saat dilakukan deportasi. Kulminasinya lalu pecah kerusuhan Cina tahun 1740. Kerusuhan membuat sekitar 10.000 orang Cina tewas. VOC kini berhadapan dengan orang-orang Cina. Sebagian orang Cina sudah memeluk Islam dan salah satu pendukung mereka adalah Pakubuwana II. [41]

Pasukan aliansi Pakubuwana II dengan orang Cina mewujud dalam pengepungan markas VOC Semarang pada Nopember 1741. Pengepungan dilakukan 20.000 tentara Jawa dan 3500 orang Cina yang dilengkapi 30 pucuk meriam. Cakraningrat IV memandang konfrontasi frontal Pakubuwana II melawan VOC berdampak buruk bagi kekuasaan pribadinya. Akibatnya, semakin bulat kehendak Cakraningrat IV bersekutu dengan VOC. 

Dalam pengepungan, Pakubuwana II mengajukan tawaran, jika orang-orang Eropa di markas VOC bersedia masuk Islam, maka mereka akan dibebaskan. Banyak orang Eropa tertarik dan menuruti tawarannya. Konfrontasi dengan Pakubuwana II membuat VOC melirik Cakraningrat IV sebagai sekutu potensial untuk mengimbangi Pakubuwana II. Tahun 1741, VOC mengabulkan kehendak Cakraningrat IV untuk lepas dari Kartasura. Kondisi berbalik, VOC kini mendapat bantuan. Pasukan Cina dan Pakubuwana II dipukul mundur. Cakraningrat IV melakukan operasi pembersihan di seluruh wilayah Jawa Timur. Pakubuwana II kini terjepit posisinya. Bahkan, ia dan ibu suri (Ratu Amangkurat) rela menghadap dan memohon maaf pada VOC. Setelah itu, Pakubuwana II menjauhi sikap anti VOC. [42]

Sikap Pakubuwana II tidak berpengaruh atas faksi-faksi politik yang awalnya tergabung dalam aliansi anti VOC. Perang terbuka melawan bekas aliansinya yaitu orang Cina dan kelompok bangsawan anti VOC marak. Tahun 1742, cucu lelaki Amangkurat III (aka Sunan Kuning) diangkat sebagai susuhunan oleh kalangan pemberontak. Perang sporadis dari kalangan pemberontak kini tertuju pada dua sasaran: Pakubuwana II dan VOC. Akhirnya, pemberontak menaklukan Kartasura tahun 1742. 

Pakubuwana II lari ke Panaraga. Di sana ia kembali mendalami mistik Jawa pra Islam, bahkan berhubungan secara metafisik dengan ruh penguasa Gunung Lawu. Sekutu VOC, Cakraningrat IV memberi bantuan dan mengusir pemberontak dari Kartasura. Cakraningrat IV meminta VOC membunuh Pakubuwana II. Permintaan ini ditolak karena kurang strategis. VOC tetap menyimpan Pakubuwana II yang lebih lunak dan mudah diatur ketimbang Cakraningrat IV. [43]

Sunan Kuning menyerah pada Kartasura tahun 1743. Praktis sejak 1743, pemberontak yang signifikan hanya dua saudara lelaki Pakubuwana II, Pangeran Singasari dan Pangeran Mangkubumi, ditambah Mas Said, keponakannya. Tahun 1746, Pakubuwana II meninggalkan istana Kartasura, resmi pindah ke Surakarta tahun 1746. Namun, di istana baru hawa pemberontakan tetap berhembus. Pakubuwana II mengumumkan siapapun yang bisa menumpas pemberontak akan diberi imbalan wilayah timur laut seluas 3000 cacah.

Mangkubumi adalah pangeran yang paling bersemangat mengikuti tawaran. Tahun 1746 ia mengalahkan Mas Said. Namun, atas hasutan patih Pringgalaya (musuh Mangkubumi), raja menahan anugerah wilayah. Hasutan ini mengecewakan Mangkubumi. Kekecewaan bertambah karena Pakubuwana II meratifikasi usul VOC agar Mataram menyewakan pesisir utara dengan imbalan 20.000 real per tahun. Mangkubumi menganggap Pakubuwana II menyalahi konsensus politik Jawa yang menghendaki mufakat elit sebelum mengambil keputusan. Mangkubumi menganggap masa depan Jawa suram jika ada di tangan Pakubuwana II. Kekecewaan Mangkubumi meledakkan Jawa ke dalam Perang Suksesi Jawa III (1746–1757). [44]

Kekecewaan mendorong Mangkubumi kini bersekutu dengan Mas Said. Tahun 1747 Mangkubumi memimpin 13.000 pasukan infanteri dan 2500 kavaleri. Tahun 1748 pemberontak mengancam Surakarta. Dalam situasi gawat Pakubuwana II jatuh sakit lalu mengusulkan VOC agar mengambil alih kuasa atas seluruh kerajaan. Usul ini disetujui VOC pada 11 Desember 1949. Di tanggal yang sama VOC mengumumkan diangkatnya Pakubuwana III (memerintah 1749–1488) sebagai penerus tahta.

Sebelum Pakubuwana III naik tahta, pasukan pemberontak terlebih dulu mengangkat Mangkubumi sebagai raja bergelar Susuhunan Pakubuwana tanggal 12 Desember 1749. Penobatan dilakukan di Yogyakarta, markas besar mereka. Mangkubumi pemimpin politik paling cakap di Jawa sejak Sultan Agung. Ia memerintah 1749–1492. Tahun 1755 Mangkubumi menggunakan gelar Hamengkubuwana sehingga kemudian dikenal sebagai Hamengkubuwana I. Kini Jawa dipimpin seorang raja pro VOC (Pakubuwana III) dan raja tandingan (Hamengkubuwana I). Dari garis Hamengkubuwana lahir Pangeran Dipanegara yang termashur (putra sulung Hamengkubuwana III). Mas Said diangkat sebagai patih.

Tahun 1750 Mas Said kembali menyerang Surakarta. Kali ini serangannya berdampak signifikan atas VOC. Putra mahkota (calon Pakubuwana IV) pun berpihak pada kalangan pemberontak. Kembali muncul perpecahan antara Mangkubumi dengan Mas Said. Situasi pelik coba diatasi VOC dengan mengundang mediator politik berkebangsaan Turki, Syeh Ibrahim. 

Selain itu, Mangkubumi pun menunjukkan keinginan baik memulai putaran perundingan. Perundingan difokuskan pada syarat-syarat dari Mangkubumi yaitu ia akan mendapat separuh bagian kerajaan (termasuk ibukotanya di Mataram) dan sebagian hasil sewa pesisir yang 20.000 real (deal antara VOC dan Pakubuwana II sebelumnya). Selain itu, perjanjian mengikat VOC dan Mangkubumi melawan Mas Said. Tanggal 13 Pebruari 1755 ditandatangani perjanjian Giyanti. VOC mengakui Mangkubumi sebagai Sultan Hamengkubuwana I dengan wilayah kekuasaan separuh Jawa Tengah. Tahun 1755 Mangkubumi pindah dari Mataram ke Yogyakarta. Tahun 1756 istana barunya rampung dibuat. Persoalan tersisa hanya Mas Said.

Pada 1756 Mas Said membakar istana Yogyakarta. Perbuatannya mendorong serangan gabungan Pakubuwana III, VOC, dan Hamengkubuwana I. Serangan ini membuatnya terpojok dan mulai berunding. Pebruari 1757 Mas Said menyerah pada Pakubuwana III, dan Maret 1757 mengucapkan sumpah setia kepada Surakarta, Yogyakarta, dan VOC. Sebagai imbalan kesetiaan, Mas Said memperoleh tanah 4000 cacah dari Pakubuwana III tetapi tidak sesuatu pun dari Hamengkubuwana I. Daerah kekuasaan Mas Said ada di bawah Pakubuwana III. Gelar yang dipakainya Mangkunegara I.

Tiga komunitas politik di Jawa Tengah, Surakarta, Yogyakarta, dan Mangkunegara masih terus bertahan hingga saat ini. Yogyakarta diberi otonomi khusus sebagai Daerah Istimewa di mana keturunan Hamengkubuwana yang duduk selaku gubernur tanpa proses pemilihan langsung, bahkan di era demokrasi liberal saat ini. Keraton Surakarta dan Puri Mangkunegaraan pun kini masih menyisakan sejarah suksesi Jawa.

(untuk sementara, kisah selesai)

Seri Politik Tanah Jawa



Catatan Kaki Bagian 4

[35] ibid., h. 194-5.

[36] Serdadu bayaran berkebangsaan Indonesia berbahasa Portugis.

[37] ibid., h. 195.

[38] ibid., h. 198.

[39] ibid., h. 199.

[40] ibid., h. 199.

[41] ibid., h. 206.

[42] ibid., h. 212.

[43] ibid., h. 214.

[44] ibid., h. 219–26.
Reactions

Posting Komentar

0 Komentar