Ad Code

Politik Tanah Jawa Bagian 3

Kembali ke masalah Demak, Ricklefs menyebutkan bahwa pasca Raden Patah kuasa Demak dilanjutkan anaknya, Pati Unus (aka Sabrang Lor). Unus gugur dalam ekspedisi penaklukan Malaka-Portugis. Karena Unus belum punya keturunan, kuasa Demak lalu jatuh pada adiknya, Trenggono. Trenggono lewat putranya, Bagus Mukmin (aka Sunan Prawoto) menyingkirkan Raden Sekar Kikin (aka Sekar Seda Lepen), saudara Unus dan Trenggono. 

Di masa Trenggono, Demak meluaskan wilayah hingga Tuban dan Gresik. Di masa Trenggono pula, wilayah baru bernama Pajang berkembang, baik secara sosial, ekonomi, dan politik. Hadiwijaya jadi penguasa Pajang pertama, yang setelah Trenggono wafat 1546, lalu dinobatkan sebagai sultan Pajang. Wafatnya Trenggono memicu konflik politik seputar tahta Demak. Dalam konflik saling berhadapan Aria Penangsang – adipati Jipang (putra Raden Sekar Kikin) – melawan Bagus Mukmin (putra Trenggono). Akhirnya, Prawoto menjadi Sultan Demak keempat periode 1546–1549. Di saat yang sama, Pajang-nya Hadiwijaya semakin otonom.[24] Prawoto lalu dibunuh lewat kepanjangan tangan Penangsang sebagai tuntutan balas atas kematian ayahnya dahulu. Dengan kematian Prawoto, era Demak sebagai kekuasaan besar dan integratif berakhir.

Sebelum Prawoto naik tahta, penguasa Pajang (Hadiwijaya) memandang Penangsang rival politik paling berbahaya. Ia menyelenggarakan sayembara penumpasan yang disanggupi oleh Kyai Gedhe Pemanahan. Pemanahan, lewat puteranya Sutawijaya, (aka Panembahan Senopati) – berhasil mengalahkan Penangsang. Atas prestasinya Pemanahan mendapat hibah wilayah perdikan untuk swakelola. Wilayah ini lalu tumbuh menjadi Mataram sebagai vassal Pajang. Sutawijaya hadir selaku pengelola utama wilayah ini.

Ricklefs menguraikan, Sutawijaya lalu bertekad membebaskan Mataram dari Pajang. Hal ini berhasil ia lakukan periode 1587-1588. [25] Mataram lalu melakukan ekspansi hingga Surabaya. Pertikaian Demak versus Mataram untuk menjadi hegemon di Jawa tengah dan timur tidak terelakkan. Sutawijaya meninggal tahun 1601. Tahta dilanjutkan putranya, Panembahan Seda ing Krapyak berkuasa 1601–1613. [26] Tahun 1602 muncul pemberontakan Pangeran Puger (putra Sutawijaya dari selir, usianya lebih tua dari Krapyak) yang memaksa Krapyak mundur sementara. Krapyak membalas Puger tahun 1605. Puger kalah, lalu dikirim ke pesantren Kudus. Kini, lawan berat Krapyak adalah Surabaya.

Setelah wafat, Krapyak digantikan putranya, Agung Hanyakrakusuma, berkuasa 1613–1646. [27] Tahun 1614, Agung menyerang Surabaya selatan (ujung timur, Malang, dan Pasuruan), tahun 1616 memukul ekspedisi Surabaya, tahun 1616 menundukkan Lasem, tahun 1617 memadamkan pemberontakan Pajang (Pajang kini berbalik, jadi vassal Mataram), tahun 1622 menaklukan Sukadana, tahun 1624 susuhunan Agung menguasai Madura, akhirnya tahun 1625 Surabaya takluk, bukan akibat serangan melainkan kelaparan akibat embargo ekonomi Agung. Saat Agung meninggal 1646, Mataram telah berkuasa atas seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur ditambah Madura. Efek kuasa Mataram diantaranya adalah, hingga 1636 Palembang menganggapnya yang dipertuan dan pasca 1637 Banjarmasin menyatakannya sebagai sekutu. [28]



Politik Demak (Illustrasi)
Sumber Foto: 
https://www.gettyimages.com/detail/news-photo/javanese-actors-indonesia-photograph-about-1885-javanische-news-photo/167362509

Pengganti Agung, Amangkurat I, berkuasa 1646–1677. [29] Sebagai penguasa baru, prioritasnya konsolidasi kekuasaan internal, sentralisasi administrasi dan keuangan, serta penumpasan aneka perlawanan yang muncul. Namun, pribadi Amangkurat I kurang baik. Di masa muda pernah menyelingkuhi istri salah satu tumenggung Mataram. Setelah berkuasa banyak melakukan political assassination atas tokoh-tokoh politik senior, yang ia gantikan dengan politisi muda pilihannya. Konsensus elit, yang awalnya mendasari keputusan politik sultan dan mampu menguatkan posisinya, sengaja ia hilangkan. 

Amangkurat I mengembangkan dekadensi politik berupa iklim curiga dan mau menang sendiri. Akibatnya, banyak sekutu dan vassal meninggalkan Mataram. Amangkurat I bahkan menunjukkan sikap tidak simpatik pada sekutunya sendiri. Misalnya, tatkala Sultan Hasanudin dari Gowa tengah memerangi VOC lalu mengirim utusan ke Mataram, Amangkurat I dengan arogan menolak dan meminta Hasanudin sendiri yang harus datang menghadap sebagai tanda takluk. Ia bahkan berkonflik dengan putra mahkotanya sendiri (nantinya Amangkurat II). [30] Akibat konflik, Amangkurat I melepas status pewaris tahta dari Amangkurat II dan memindahkannya pada Pangeran Puger. Tokoh Puger ini berbeda dengan Puger yang bersengketa dengan Krapyak dahulu. Puger kali ini adalah putra Amangkurat I dari permaisuri kedua. Amangkurat II putra dari permaisuri pertama. Puger adalah adik tiri Amangkurat II.

Ricklefs menulis, tahun 1675 terjadi pemberontakan skala besar atas Mataram. Kali ini serdadu Makassar menyerang, membakar sejumlah pelabuhan Mataram di timur Jawa hingga Tuban. [31] Tahun 1676 terjadi pemberontakan Trunajaya yang mengangkat dirinya keturunan Majapahit. Ada indikasi kuat putra mahkota (Pangeran Puger) terlibat. Amangkurat I lalu mengirim Puger untuk memadamkan pemberontakan Trunajaya dengan tujuan agar ia gugur dalam tugas. Puger tidak gugur melainkan sekadar kalah. Akibat kecurigaannya atas Puger, Amangkurat I melepas status putra mahkota dari Puger lalu mengembalikannya pada Amangkurat II.

Puger tetap menganggap dirinya putra mahkota, sementara Amangkurat II ditunjuk Amangkurat I kembali menjadi pewaris Mataram. Karena serangan Trunajaya, Amangkurat I dan Amangkurat II melarikan diri. Trunajaya berhasil menguasai istana Mataram lalu pindah ke Kediri. Sisa pasukan Trunajaya di Mataram lalu diserang Puger. Puger ingin menunjukkan loyalitasnya pada Mataram dan kali ini berhasil. Istana Mataram kini dikuasai Pangeran Puger yang menganggap dirinya pewaris kuasa Mataram. Tahun 1677 Amangkurat I meninggal dan tanggal 13 Juli 1677 Amangkurat II memakamkannya di Tegalwangi.[32] Amangkurat II berkuasa atas Mataram sejak 1677–1703. Program awalnya saat berkuasa adalah menjalin aliansi dengan VOC untuk menguatkan posisinya, baik di hadapan Trunajaya maupun Puger.

September 1678 Amangkurat II dan aliansi VOC-nya berhasil menghancurkan kubu Trunajaya di Kediri. Akhir tahun 1679, Trunajaya tertangkap di Jawa Timur. Pada Januari 1680, setelah dihadapkan padanya, Trunajaya ditikam hingga meninggal oleh Amangkurat II. [33] Nopember 1679, Amangkurat II memukul mundur pasukan Makassar dari Keper, Jawa Timur. Ini setelah dibantu Arung Palakka dari Bone, yang bersama prajurit Bugis-nya, memahami psikologi pasukan Makassar. Hingga saat ini, Puger tetap kukuh mempertahankan haknya sebagai penguasa Mataram.

Karena Mataram sudah dikuasai Puger, Amangkurat II menuju Pajang untuk mendirikan istana baru pada September 1680 di Kartasura. Bersama aliansi VOC-nya, ia mengusir Puger dari istana. Puger membalas, dengan menghimpun 10.000 tentara dan Agustus 1681 ia kembali menduduki Mataram. Pada Nopember 1681 Puger kembali dikalahkan oleh VOC dan akhirnya mengakui kekuasaan Amangkurat II atas Mataram. Hubungan Amangkurat II dengan VOC yang awalnya rapat kini merenggang. Setelah Puger kalah, Amangkurat II menganggap kekuasaannya stabil sehingga ketergantungan atas senjata dan bantuan VOCnya berkurang. Penentangan Amangkurat II atas VOC diantaranya tidak mau membayar utang pengeluaran militer VOC, menyabot pengiriman beras, kayu, dan gula kepada VOC, serta tidak menyerahkan Semarang. Pada pihak lain, benih antiVOC menyemai di istana Kartasura. Keretakan mencuat saat istana menerima suaka Surapati, budak belian asal Bali.

Sebelumnya, Surapati pernah menyerang pasukan VOC. Dalam serangannya, ia membunuh 20 dari 29 serdadu berkebangsaan Eropa. Patih Mataram, Angrangkusuma (tokoh anti VOC) membujuk Amangkurat II melindungi Surapati. Surapati dan 80 anggota rombongannya diberi suaka dan diberi perlindungan di sekeliling istana. Dengan adanya Surapati, kalangan anti VOC Mataram kini punya pasukan pemukul untuk melawan VOC.[34] VOC mengirim Kapten Tack, orang yang paling dibenci Amangkurat II, untuk menangkap Surapati. Amangkurat II tidak mau menyerahkan Surapati, tetapi ragu bersikap keras pada VOC. Akhirnya, taktik tipuan dilakukan. Pasukan Mataram pura-pura menyerang Surapati. Setelah pasukan Tack memburunya, Surapati bersama pasukan Mataram, yang menyamar jadi orang Bali, balik menyerang pos VOC di Kartasura. Tack terbunuh dalam penyergapan ini dengan 20 luka di jasadnya.

Amangkurat II mengembangkan koalisi anti VOC dengan Johor, Palembang, Cirebon, bahkan mendekati Inggris. Di sisi lain, Surapati justru mengembangkan komunitas politik di timur Jawa. Di dalam istana, elit politik terpecah ke dalam beberapa kelompok. Berhadapan antara kelompok pro putra mahkota (kelak menjadi Amangkurat III) melawan yang pro Pangeran Puger (kelak Pakubuwana I). Putra mahkota menjalin aliansi dengan Surapati, sementara raja senior berupaya rujuk dengan VOC. Sayang, VOC sudah tidak mempercayainya.

(bersambung ke Politik Tanah Jawa Bagian 4)


Catatan Kaki Bagian 3

[24] Pembahasan konflik sejarah tahta Demak ini secara menarik tersaji dalam bentuk novel sejarah yang ditulis Nasirun Purwokartun, Penangsang: Tembang Rindu Dendam (Jakarta: Tiga Kelana, 2010).

[25] M. C. Ricklefs, Sejarah ..., op.cit., h. 98-9.

[26] ibid., h.100.

[27] ibid., h. 102. Awal berkuasa, Agung tidak pakai gelar Sultan melainkan pangeran atau panembahan. Tahun 1624, Agung gunakan gelar susuhunan. Baru tahun 1641, Agung gunakan gelar Sultan.

[26] ibid., h. 102-3.

[29] ibid., h. 164.

[30] ibid., h. 166. Karena perselisihan ini, Amangkurat I melepas posisi putra mahkota dari Amangkurat II dan menyerahkannya kepada Pangeran Puger.

[31] ibid., h. 172.

[32] ibid., h. 175.

[33] ibid., h. 177.

[34] ibid., h. 187-8.
Reactions

Posting Komentar

0 Komentar