Ad Code

Politik Tanah Jawa Bagian 2

Hayam Wuruk hadir sebagai buah pernikahan Tribhuwanattunggadewi dengan Wikramawardhana, seorang bangsawan Majapahit. Suksesi lanjutan Majapahit predictable. Stabilitas politik memungkinkan adanya fokus atas politik ekspansi. Tahun 1343 masehi, Gajah Mada memasuki Bali. Ekspansi ke Bali bukan yang pertama terjadi. Sebelumnya, Raja Kertanegara (Singasari) melakukannya 1284 masehi. Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dikenal sebagai Ekspedisi Bedahulu.

Di Bali saat itu berkuasa raja Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten, sejak 1337 masehi. Raja Bali ini punya panglima perang bernama Amangkubumi Paranggrigis. Dalam aktivitasnya, Paranggrigis punya seorang pembantu bernama Kebo Iwa, asal desa Belahbatuh. Menurut strategi Gajah Mada, Kebo Iwa ini harus terlebih dulu diatasi untuk melemahkan Bali. 

Sebelum diekspansi secara militer, Gajah Mada melakukan diplomasi dengan Bali. Ratu menulis surat berisikan tawaran persahabatan dari Majapahit yang dibawa Gajah Mada. Amangkubumi Paranggrigis lalu turun tangan secara langsung menggantikan Kebo Iwa dalam memimpin positioning Bali atas Majapahit. Untuk itu, ia mengumpulkan sejumlah tokoh Bali untuk menentukan sikap Bali atas aksi Majapahit. Suara bulat dicapai, Bali tidak akan tunduk. Tahun 1334 masehi, barulah Gajah Mada membawa ekspedisi militernya ke Bali. Dalam ekspedisi, ikut serta Arya Damar (atau Adityawarman) yang memangku jabatan panglima perang. Setelah serangan Majapahit, Bali mengalami vacuum of power.

Orang berpengaruh di Bali yang masih Patih Ulung. Namun, patih ini tidak mampu menguasai keadaan. Sebab itu, ia bersama dua keluarganya, Arya Pemacekan dan Arya Pemasekan, datang menghadap Ratu Tribhuwanattungadewi agar mengangkat otoritas Majapahit di Bali. Tribhuwanattungadewi (kemungkinan konsultasi dengan Gajah Mada) mengangkat Sri Kresna Kepakisan, turunan Bali Aga, selaku otoritas Majapahit. Bali Aga adalah penduduk Bali pegunungan, yang kerap dipisahkan dengan Bali Mula (orang Bali asli). Strategi politik yang terbaca adalah memecah dan menyeimbangkan kekuatan antarkelompok di dalam Bali. Di era yang sama, Gajah Mada memimpin penaklukan Lombok.

Seperti telah disebut, dalam Ekspedisi Bedahulu 1333-1334 masehi, Gajah Mada disertai Adityawarman. Sejak kecil, Adityawarman dipelihara di lingkungan Majapahit. Adityawarman lalu diangkat menjadi otoritas Majapahit di Sumatera (wilayah bekas Sriwijaya). Setelah penaklukan Gajah Mada usai, ia diangkat sebagai vassal Majapahit berkedudukan di Jambi. Adityawarman masih merupakan saudara Jayanagara, raja Majapahit sebelumnya.

Saat menjadi vassal, Adityawarman memperluas wilayah ke arah barat, Minangkabau. Di sana ia memerintah atas nama Majapahit. Penaklukan diteruskan hingga Samudera Pasai, termasuk ke dalamnya, Tumasik (Singapura), Bintan, Borneo (Kalimantan), termasuk Burni (Brunei). Penaklukan Gajah Mada lebih terarah ke timur. Perluasannya meliputi Logajah, Gurun, Seram, Hutankadali, Sasak, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Timor, dan Dompo. Bahkan sejumlah wilayah Filipina selatan juga masuk ke dalam Majapahit. Sebagian besar perluasan mengandalkan kekuatan maritim, yang untuk itu, Gajah Mada punya andalannya sendiri, Panglima Angkatan Laut Nala.

Pada tahun 1350 masehi, Tribhuwanattunggadewi lengser keprabon mandeg pandito. Ratu digantikan putranya, Hayam Wuruk yang berkuasa 1350–1389 masehi. Kebijakan Majapahit di bawah Hayam Wuruk lebih berorientasi stabilitas internal, termasuk mencari permaisuri bagi kelangsungan suksesi politik. Politik ekspansionis Gajah Mada berakhir di masa Hayam Wuruk. Raja baru ini menempatkan pembangunan candi, pengelolaan politik dalam negeri, dan pemadaman pemberontakan yang terjadi wilayah-wilayah perluasan sebagai prioritas kebijakan.

Tahun 1351 masehi, Hayam Wuruk menghasrati Dyah Pitaloka, putri Raja Sunda Galuh, sebagai permaisuri. [17] Kerajaan tersebut ada di barat Majapahit dan belum sepenuhnya tunduk pada Majapahit karena faktor kekeluargaan. Di sisi lain, Raja Sunda Galuh melihat, jika putrinya diambil selaku permaisuri, maka aliansi politik setara karena hubungan keluarga antara Sunda Galuh dan Majapahit tercipta. Datanglah rombongan besan dari Sunda Galuh, terdiri atas raja, kaum bangsawan, dan sejumlah kecil pengawal. 

Mereka berkemah di lapangan Bubat, pedataran luas di lingkungan ibukota Majapahit. [18]Terjadi negosiasi antara Gajah Mada dengan Raja Sunda Galuh seputar status Sunda Galuh pasca pernikahan tersebut, di mana muncul perbedaan asumsi antara keduanya: Taklukan atau Aliansi. Gajah Mada melihat potensi pembangkangan sebuah wilayah yang seharusnya tunduk pada Majapahit. Raja Sunda Galuh mendebat keinginan Gajah Mada dan memutuskan angkat senjata jika penaklukanlah yang Majapahit harapkan. Gajah Mada mengerahkan pasukan menyerang tamu tersebut. Terjadilah tragedi Bubat yang terkenal itu. Pertempuran tidak berimbang. Seluruh rombongan Sunda Galuh, termasuk raja dan putri Dyah Pitaloka, gugur. [19]

Hayam Wuruk kecewa dengan tragedi Bubat. Ada beberapa asumsi yang memuat kekecewaan Hayam Wuruk yang muncul dalam sejumlah tulisan. Hayam Wuruk yang masih muda, tentu berdarah panas dan tatkala itu sedang kasmaran dengan putri Sunda. Atau, nilai sportivitas ksatria mudanya terpancing, mengingat pertarungan dua elemen tidaklah sepadan. Juga, Hayam Wuruk malu sebab menganggap pertikaian yang disulut Gajah Mada masih ada dalam kerangka hubungan antarkeluarga. 

Pararaton menyebut, pasca insiden Bubat Gajah Mada tetap menjalankan fungsi sebagai Patih Majapahit hingga meninggalnya tahun 1364 masehi. Namun, ada pula yang menyebut Gajah Mada segera dimutasi ke Madakaripura. [20] Di sana Gajah Mada hidup asketis hingga meninggal 1364 masehi tanpa diketahui prosesnya. Satu hal yang pasti: Politik ekspansionis Majapahit usai. Segera setelah tragedi Bubat, Hayam Wuruk mengarahkan politiknya pada stabilitas dalam negeri. Memang muncul beberapa pemberontakan di pulau luar seperti dari Palembang, yang minta bantuan Kekaisaran Cina untuk mengimbangi kuasa Majapahit. Namun, begitu pasukan Cina datang ke Palembang, wilayah itu sudah ditangani pasukan Majapahit dan ekspedisi Cina dipukul mundur.

Apapun alasannya, Gajah Mada sosok politisi-militer yang kuat. Sejumlah tulisan menyebut Hayam Wuruk kerepotan saat mencari pengganti Gajah Mada yang serba bisa itu. Rajasanagara harus mengangkat sekurangnya empat menteri baru guna mengisi posisi Gajah Mada, yang sebelum itu terjadi, terpaksa memerintah sendiri Majapahit kurang lebih tiga tahun. Akhirnya, Hayam Wuruk mengangkat Gadjah Enggon selaku patih tahun 1367 masehi.



Suasana Zaman Majapahit
Sumber Foto:  
https://nationalgeographic.grid.id/read/13283288/terus-mengungkap-masa-keemasan-dinasti-majapahit

Tiada pula, untuk sementara ini, ditemukan kabar apakah Gajah Mada punya keturunan. Butuh sebuah riset yang ditopang dana besar pemerintah Indonesia untuk mengangkat kisah Gajah Mada secara utuh. Pasca meninggalnya Gadjah Mada, vassal Majapahit – kerajaan Sriwijaya (aka San fo-ts’i) – pecah menjadi tiga yaitu Palembang, DharmaƧraya dan Pagarruyung (aka Minangkabau) tahun 1371 masehi. Kerajaan lai seperti Tanjung Pura di Borneo mengadakan hubungan luar negeri secara bebas dengan Tiongkok, tanpa melalui Majapahit lagi.

Seiring memudarnya kuasa Majapahit, Demak hadir sebagai kerajaan Islam nusantara yang menjadi tuan bagi pendahulunya yang berusia senja. Saat kuasa Majapahit mulai memudar, Demak tumbuh dari kota pelabuhan yang terletak beberapa kilometer dari laut Jawa. Menurut Ricklefs, Demak didirikan seorang asing beragama Islam bernama Cek Ko-po akhir abad kelima belas. [21] Di masa kemudian, Demak melakukan penaklukan atas wilayah-wilayah lain: 1527 menaklukkan Tuban; 1529–1530 menaklukkan Madiun; 1530-an Surabaya (sudah Islam) mengakui kekuasaan Demak; 1543 menaklukkan Gunung Penanggungan (tempat keramat bagi penduduk Jawa Timur yang masih beragama Hindu); dan 1545 menaklukkan Malang. [22]

Ricklefs menyatakan bahwa Demak memfasilitasi perkembangan kesultanan Banten dan Cirebon. Banten berkembang berhadapan dengan Pajajaran di pedalaman. Saat Pajajaran mengalami kemunduran Banten mengambil-alih pengaruh mereka di wilayah ujung barat pulau Jawa. Salah satu elit Demak, Sunan Gunungjati, mengadakan perluasan ke Barat tahun 1523–1524. Di barat, ia (tentunya bersama tentara Demak) mengambil-alih Banten lalu mendirikan pusat perdagangan dan pangkalan strategis. Di sini ia juga menggulingkan penguasa setempat dan tahun 1527 menolak keinginan Portugis yang bermaksud mendirikan benteng di Banten.

Sunan Gunungjati awalnya memerintah Banten sebagai vassal Demak. Namun, pada perkembangan kemudian keturunannya berkuasa secara otonom di Banten. Tahun 1522 Gunungjati pindah ke Cirebon. Penguasa Banten setelah Sunan Gunungjati adalah Hasanudin (berkuasa 1552–1570) lalu dilanjutkan Maulana Yusuf. Di masa Hasanudin, Banten meluaskan wilayah hingga Sumatera Selatan dan Lampung. Untuk selanjutnya, kedua wilayah tersebut memiliki hubungan dengan Jawa Barat. Tahun 1579 Maulana Yusuf berhasil menaklukan terakhir atas Pajajaran yang sekaligus menandai berakhirnya era kerajaan Hindu-Buddha di Jawadwipa. [23]

(bersambung ke Politik Tanah Jawa Bagian 3)


Catatan Kaki Bagian 2

[17] Sunda Galuh kerabat sangat dekat Majapahit. Ayah Raden Wijaya Rakryan Jayadarma, raja ke-26 Sunda Galuh yang menikah dengan Dyah Lembu Tal, putri Raja Singasari. Dyah Lembu Tal adalah turunan langsung Ken Arok dan Ken Dedes dengan alur: Dari Arok dan Dedes lahir Mahisa Wong Ateleng. Dari Mahisa Wong Ateleng lahir Mahisa Cempaka. Dari Mahisa Cempaka inilah lahir Dyah Lembu Tal, ibu Raden Wijaya. Lihat silsilah para raja Wangsa Isana dalam Pramudya Ananta Toer, Arok Dedes, Cetakan 5 (Jakarta: Lentera Dipantara, 2002) h. 556.

[18] Lihat Slamet Muljana, Tafsir Sejarah Negarakretagama, Cetakan 4 (Yogyakarta: LKiS, 2009) h. 147. Menurut perhitungan Muljana berdasarkan Kitab Pararaton, Perang Bubat terjadi tahun 1357 Masehi.

[19] Slamet Muljana menulis bahwa setelah dikepung, Raja Sunda bersedia negosiasi ulang, tetapi para menak yang mengiringinya tidak terima dan sedia berkalang tanah ketimbang tunduk pada Gajah Mada. Melihat semangat para menak Raja terharu dan mendukung sikap mereka. Lihat Slamet Muljana, Tafsiran ..., op.cit. h. 148.

[20] ibid., h.152.

[21] M.C. Ricklefs, Sejarah ..., op.cit., h. 88. Analisis perkembangan selanjutnya banyak menggunakan sumber dari Ricklefs ini, jika tidak disebut sumber lain.

[22] ibid. h.90.

[23] ibid. h. 90-1.
Reactions

Posting Komentar

0 Komentar