Ad Code

Politik Tanah Jawa Bagian 1

Kendati telah banyak berdiri kerajaan yang berpusat di Jawa, Majapahit adalah yang terbesar. Majapahit muncul setelah Singasari, kerajaan sebelumnya, meredup. Majapahit didirikan Nararya Sanggramawijaya. Berdiri tahun 1294 masehi (atau 1216 çaka), kerajaan ini lalu runtuh tahun 1527 masehi dengan Girindrawardhana sebagai rajanya terakhir. [1]

Raja-raja yang pernah memerintah Majapahit adalah Kertarajasa Jayawardhana (aka Sanggramawijaya, Raden Wijaya, 1294–1309), Jayanegara (aka Kalagemet, Wirandagopala, 1309–1328), Tribhuwanatunggadewi (aka Jayawisnuwardhani, 1328-?), Rajasanegara (aka Hayam Wuruk, ?–1389), Wikramawardhana (aka Hyang Wisesa, suami Kusumawardhani, 1389 – 1427), Suhita (1427–1447), Bhre Daha (pemerintahan transisi, 1437-?), Sri Kertawijaya (1447–1451), Bhre Pamotan (aka Sang Sinagara, 1451–1453), vacuum of power (hingga 1456), Hyang Purwawisesa (1456–1466), Bhre Pandan Alas (1466–1468), Singawardhana (1468–1474), Kertabhumi (1474–1478), Njoo Lay Wa (1478–1486), dan Girindrawardhana (aka Dyah Ranawijaya, Prabu Nata, 1486–1527). [2]

Kertabhumi dianggap raja terakhir Majapahit saat kerajaan tersebut masih berdaulat, yang kuasanya berakhir 1478 masehi. Pemerintahan Njoo Lay Wa dan Girindrawardhana adalah ketika Majapahit telah berada di bawah hegemoni kerajaan baru, Demak. [3] Dengan demikian, periode Majapahit meliputi total 233 tahun dari 1294–1527 di mana 184 tahun sebagai kerajaan berdaulat dan 49 tahun sebagai bawahan Demak.

Menurut Slamet Muljana, Njoo Lay Wa penguasa Majapahit yang diangkat Panembahan Jin Bun (aka Raden Patah). Panembahan Jin Bun peranakan Tionghoa, anak raja Kertabhumi dari putri Cina. Jin Bun diasuh Arya Damar (aka Swan Liong), kapten Cina di Palembang. Swan ini adalah anak Wikramawardhana (suami Kusumawardhani) dari seorang putri Cina. Rakyat Majapahit tidak suka diperintah Cina, muncul pemberontakan, dan Njoo Lay Wa terbunuh tahun 1486 masehi. Setelah Njoo terbunuh, Jin Bun sadar rakyat Majapahit tidak suka diperintah raja Cina. Ia lalu mengangkat iparnya, Girindrawardhana (menantu Kertabhumi), sebagai penguasa Majapahit. [4]

Dalam kerajaan Majapahit, teknis harian pemerintahan dilakukan para patih. Patih adalah tangan kanan raja, pengatur hampir semua pekerjaan pemerintahan (mirip dengan perdana menteri). Raja umumnya melakukan sejumlah peran simbolik. Patih-patih yang pernah memerintah Majapahit adalah Nambi (1294–1316), Halayuda (1316–kurang lebih 1323), Arya Tadah (kurang lebih 1323–1334), Gadjah Mada (1334–1364), lowong patih pasca Gadjah Mada (hingga 1367), Gadjah Enggon (1367–1394), Gadjah Manguri (1394–1398), Gadjah Lembana (1398–1410), Tuan Tanaka (1410–1430). [5]

Dalam kuasa para patih, periode Gadjah Mada merupakan periode termasyhur. Layaknya Napoleon Bonaparte, Gajah Mada terlahir sebagai orang biasa. [6] Ia seorang military-politico yang meniti karir dari bawah hingga duduk di puncak pengambilan keputusan negara paling berpengaruh. Sulit disangkal, salah satu faktor kuat mengapa Majapahit muncul sebagai kerajaan besar akibat pengaruh Gajah Mada ini.



Majapahit dan Gajah Mada
Sumber Foto:
https://www.ancient-origins.net/ancient-places-asia/majapahit-empire-short-life-empire-once-defeated-mongols-003623

Penulis seperti Leo Suryadinata mengakui, awal sejarah hidup Gajah Mada tidak jelas. Namun, Encarta Encylopedia memperkirakan Gajah Mada lahir 1290 masehi. Jadi, ia lahir lahir – dan besar – saat terjadi transisi politik dari Raden Wijaya kepada Jayanagara. Penulisan tokoh Gajah Mada juga sering dihubungkan dimensi supernatural, yang sulit dihindari karena masyarakat Indonesia menilai tinggi dimensi tersebut. Penyingkapan jatidiri Gajah Mada hendaklah menghindari pencampuadukan tersebut. [7] Juga terdapat pendapat menyebut Gajah Mada turunan Mongol. Ia terlahir sebagai anak anggota pasukan Mongol yang menetap di Jawa dan lalu menikahi perempuan lokal. Argumentasi ini dibuat karena periode kelahiran Gajah Mada berlingkup penyerangan Majapahit oleh Dinasti Yuan, dinasti Cina keturunan Mongol. [8]

Suryadinata menulis, Gajah Mada mengandalkan intelijensi, keberanian, dan loyalitas dalam mobilitas vertikalnya. Karir lanjutannya kepala pasukan Bhayangkara, pasukan penjaga keamanan Raja dan keluarga. [9] Saat itu, raja patronnya Jayanagara, berkuasa di Majapahit 1309-1328 masehi. Dengan demikian, Gajah Mada tentu tengah meniti karir militer level bawah sejak era Raden Wijaya, raja pertama Majapahit.

Jayanagara putra Raden Wijaya dengan putri Sumatera (Jambi), Dara Petak. Sebab itu, darah di tubuh Jayanagara bukanlah pure Jawa. Anggapan primordial ini adalah anggapan umum kancah politik multinasional saat itu. Anggapan sulit dihindari karena nusantara telah merupakan lintasan dagang aneka bangsa. Resistensi kembangan masalah primordial ini ditandai pecahnya pemberontakan Nambi 1316 M. Menurut gimonca.com, Nambi memberontak salah satunya akibat sentimen darah Jayanagara ini. [10] Meski berhasil dipadamkan, pemberontakan tersebut menandai latensi masalah primordial dalam politik Majapahit.

Saat Gajah Mada menjabat kepala pasukan Bhayangkara, meletus pemberontakan Ra Kuti (seorang pejabat Majapahit) tahun 1319 masehi. Pemberontakannya menohok politik pusat karena mampu menduduki ibukota. Jayanagara berikut para istri Raden Wijaya dan putrinya (Tribhuwanattungadewi, Dyah Gayatri, Dyah Wiyat, dan Pradnya Paramita) mengungsi ke Bedander. Sebagai kepala Bhayangkara, Gajah Mada memastikan keamanan raja dan keluarga. Setelah situasi dinyatakan save, ia kembali ke ibukota untuk menyusun serangan balasan. 

Dalam penyusunan, Gajah Mada menyelidiki kesetiaan rakyat dan pejabat Majapahit pada Jayanagara. Ia memancing dengan isu terbunuhnya Jayanegara. Ternyata rakyat dan sebagian besar pejabat Majapahit menyayangkan kematian raja dan membenci Ra Kuti. Atas dasar ini, Gajah Mada menyusun serangan militer balasan lalu berhasil membalik keadaan. Pemberontakan Kuti pun padam. Raja dan keluarganya kembali ke ibukota. Saat kembali memerintah, Jayanagara ditopang kemampuan politik Arya Tadah, mahapatih Majapahit. Fokus kebijakan raja dan mahapatih adalah stabilitas politik dalam negeri. Jadi, Majapahit belum melakukan penaklukan ke pulau-pulau luar Jawa. Gajah Mada belum memegang peran penting di dalam pembuatan keputusan politik level pusat.

Atas jasanya memadamkan pemberontakan Kuti, Jayanagara menaikkan jabatan Gajah Mada dari komandan pasukan Bhayangkara menjadi menteri wilayah (patih) dua region Majapahit: Daha dan Jenggala. Posisi tersebut berpengaruh mengingat keduanya diwenangi putri Tribuwanattunggadewi (Daha) dan Dyah Wiyat (Jenggala), dua saudari tiri Jayanagara. Jayanagara belum memiliki putra laki-laki sebagai penerus tahta. Loyalitas Gajah Mada atas Jayanagara fluktuatif. Fluktuasi loyalitas ini berkisar pada tiga motif pribadi. Pertama, Charles Kimball menulis loyalitas Gajah Mada terhadap Jayanagara menurun akibat raja mengambil istri Gajah Mada selaku haremnya. [11] Kedua, Kitab Negara Kertagama olahan Empu Prapanca menulis, perubahan loyalitas Gajah Mada akibat Jayanagara mulai jatuh hati pada dua saudari tirinya: Tribuwanattunggadewi dan Dyah Wiyat. Empu Prapanca ini akrab dengan Gajah Mada. Ketiga, novelis Langit Kresna Hariyadi, menulis loyalitas Gajah Mada terhadap Jayanagara berubah akibat Gajah Mada khawatir atas perubahan sikap raja pada Tribhuwanattunggadewi.

Ketiga asumsi tersebut membayangi proses meninggalnya Jayanagara 1328 masehi. Versi Kimball menyebut Gajah Mada menskenario pembunuhan atas Jayanagara lewat Ra Tanca, tabib istana. Tanca dipaksa membunuh Jayanagara saat ia melakukan operasi pembedahan atas raja akibat penyakit bengkak yang dideritanya. Setelah raja meninggal, Gajah Mada menuding Tanca telah membunuh raja lalu mengeksekusi tabib tersebut. Kemelut ini terjadi 1328 M dan menggambarkan intrik politik istana: Kepentingan pribadi berbaur dengan nasib sebuah kerajaan. [12]

Setelah Jayanegara meninggal, Gajah Mada berkeras Tribhuwanattunggadewi harus dijadikan pengganti. Gajah Mada khawatir singgasana akan jatuh ke tangan Arya Damar, sepupu Jayanegara dari garis ibu (putri Mauliwarmadewa raja Darmaçraya).[13] Jika hal tersebut terjadi, Majapahit mungkin kembali dirundung pemberontakan dengan motif seperti Nambi dahulu. Tribhuwanattunggadewi (aka Sri Gitarja) ini adalah putri Raden Wijaya dari Gayatri, putri Kertanegara, raja terakhir Singasari. Mungkin saja, opini yang muncul saat itu adalah putra pribumi atau bukan. Juga mungkin pula peralihan kekuasaan pada ratu, membuat Gajah Mada lebih leluasa mengambil tindakan politik di kemudian hari. [14] Mulai periode Ratu inilah ekspansi Majapahit berawal.

Setelah Mahapatih Arya Tadah pensiun 1329 masehi, praktis posisinya jatuh ke tangan Gajah Mada. Tribhuwanattunggadewi mendukung rencana strategis Gajah Mada. Tahun 1331 masehi meletus pemberontakan Sadeng dan Keta, di timur Pulau Jawa. Gajah Mada mengirim ekspedisi militer ke sana. Secara politik dan militer, Ra Kembar (bangsawan sekaligus pejabat Majapahit) berusaha menutup jalan masuk pasukan Gajah Mada ke Sadeng. Dengan kekuatan militer, blokade berhasil ditembus dan upaya memasukkan kembali kedua wilayah terbuka lebar. 

Setelah memadamkan pemberontakan Sadeng dan Keta inilah kiranya Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih. [15] Bunyi sumpah Gajah Mada saat dilantik jadi Mahapatih dikenal sebagai Sumpah Palapa, bunyinya terekam dalam Kitab Pararaton sebagai berikut: Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa. [16] Sumpah tersebut disambut olok-olok para menteri Majapahit semisal Ra Kembar, Ra Banyak, Jabung Terawas, dan Lembu Peteng. Peristiwa ini terjadi tahun 1331 masehi, di mana Ra Kembar dan Ra Banyak – dalam tempo tidak terlalu lama – dimutasi oleh ratu lalu dieksekusi.

(bersambung ke Politik Tanah Jawa Bagian 2)




Catatan Kaki Bagian 1

[1] Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara (Yogyakarta: LKiS, 2005) h. 33. Girindrawardhana ini berkuasa sebagai bawahan Demak.

[2] Urutan ini dibuat oleh Slamet Muljana berdasarkan sumber Nagarakretagama, Pararaton, Kidung Wijayakrama, berbagai prasasti dari zaman Majapahit dan kronik Tionghoa dari klenteng Sam Po Kong di Semarang. Lihat dalam ibid. h. 33. Sejarawan lain semisal Ricklefs menyajikan data raja Majapahit berbeda yaitu: Kertarajasa Jayawardhana (1294-1309); Jayanagara (1309-28); Ratu Tribhuwana Wijayottungga Dewi (1328-50); Rajasanagara aka Hayam Wuruk (1350-89); Wikramawardhana (1389-1429); Ratu Suhita (1429-47); Wijayaparakramawardhana (1447-51); Rajasawardhana (1451-3); vacuum of power (1453-6); Girisawardhana (1456-66); dan Singhawikramawardhana (1466-78). Lihat M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi, 2008, h. 55. Ricklefs mengajukan hipotesis jika Majapahit takluk 1478 maka yang melakukannya tentu bukan musuh yang beragama Islam. Lihat dalam ibid. h.56.

[3] ibid., h. 29.

[4] Girindrawardhana ini berkuasa selama 40 tahun, menjalin hubungan dengan musuh Demak, Portugis. Akibatnya Majapahit diserbu Demak di bawah pimpinan Toh A Bo (putra Sultan Trenggana aka Tung Ka Lo) tahun 1527. Keturunan Girindrawardha enggan memeluk agama Islam dan bermigrasi ke Panarukan. Lihat dalam ibid.

[5] ibid., h. 27.

[6] Kisah Gajah Mada ini diambil dari tulisan penulis berjudul Biografi Gajah Mada yang dimuat dalam blog penulis di setabasri01.blogspot.com/2009/02/biografi-gajah-mada.html.

[7] Namun, pencampuran dengan dimensi religius tersebut paling tidak tetap dihargai sebagai upaya sebagian bangsa Indonesia kalangan untuk membanggakan tokohnya, terlebih Indonesia yang terus mencari figur untuk diteladani di masa bellum omnium contra omnes Indonesia saat ini.

[8] Namun, pendapat ini tidak memiliki bukti-bukti konkrit berupa inskripsi, prasasti, epik dan sejenisnya. Kitab Pararaton dan Negara Kertagama, acuan utama tarikh Gadjah Mada, bahkan tidak pernah menyebut soal ini.

[9] Leo Suryadinata, "Gajah Mada" dalam www.britannica.com/EBchecked/topic/223605/Gajah-Mada

[10] www.gimonca.com/sejarah/sejarah01.shtml

[11] Charles Kimball, "Pre-Moslem Indonesia" dalam www.guidetothailand.com/thailand-history/indonesia.php

[12] Pada masa terbunuh dan digantinya Jayanagara ini, Odoric dari Pordonone, pendeta ordo Fransiskan dari Italia mengunjungi Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

[13] Ayah Arya Damar adalah Adwaya Brahman, kerabat raja Kertanegara (Singasari), ibunya Dara Jingga, saudari Dara Petak, ibu Jayanegara.

[14] Berbeda dengan Muljana atau Ricklefs, Kimball menulis Ratu ini baru dilantik tahun 1329 M. Periode 1328–1329 dengan demikian merupakan vacuum of power. Lihat Charles Kimball, op.cit.

[15] Leo Suryadinata, Gajah ..., op.cit.

[16] Parakitri T. Simbolon, Menjadi Indonesia, Cetakan 3 (Jakarta: Penerbit Kompas, 2007) h. 423.

Disclaimer
Tulisan ini didasarkan atas artikel sebelumnya di 
https://www.setabasri.com/2009/02/biografi-gajah-mada.html
Reactions

Posting Komentar

0 Komentar