Ad Code

Orang-orang Cina yang Tinggal di Indonesia

Etnis Cina sebagai misal, sesungguhnya menyebar tidak hanya di Indonesia melainkan juga di negara-negara ASEAN lain. Bahkan di beberapa negara, komposisi etnis Cina terbilang cukup signifikan.

Chinese Woman
Sumber Foto:
https://d3nuqriibqh3vw.cloudfront.net/styles/aotw_card_ir/s3/chinese-new-year_optimized.jpg?AA_otujlxA5G3Jg74ot8d2E4DyqAfGf2&itok=TRxLeVb8

Untuk memperlihatkan hal tersebut, berikut tabel persebaran etnis Cina di lingkup negara-negara Asia Tenggara: [1]



Istilah "Cina"


Leo Suryadinata, et.al., mengetengahkan rancunya istilah etnis Cina di Indonesia yaitu apakah mengacu pada budaya ataukah keturunan Cina. [2] Dalam sensus yang dilakukan tahun 2000, banyak etnis yang dikategorikan Cina sudah tidak lagi mengidentifikasi diri sebagai Cina. 

Alasan yang melatarbelakanginya beragam seperti rasa takut, integrasi yang mapan, ataupun kehati-hatian mengingat kalangan pribumi masih memandang curiga kepada mereka. Titik tolak di mana etnis Cina secara politik mulai melakukan reintegrasi ke dalam komunitas politik Indonesia – dalam konteks multikultural – berlangsung di masa administrasi presiden Abdurrachman Wahid (Gus Dur). Gus Dur mengakui budaya dan agama dari etnis Cina yang ada di Indonesia – baik dalam aras komunitas politik maupun komunitas budaya.

Dalam sensus tahun 2000 juga coba dipisahkan antara etnis Cina yang berkewarganegaraan Indonesia dengan etnis Cina yang berkewarganegaraan asing. Sensus mengemukakan, hanya 93.717 orang atau 0,05% etnis Cina yang berkewarganegaraan asing dalam populasi Indonesia dan mereka ini terutama berdomisili di Jawa Barat dan Banten yang meliputi 57,47%. Ironisnya, mereka ini adalah etnis Cina yang relatif miskin sehingga tidak mampu membayar biaya pengurusan administrasi kewarganegaraan pada pemerintah Indonesia. Secara garis besar, etnis Cina berkewarganegaraan Indonesia mayoritas tersebar di sebelas provinsi, yang jika dibandingan dengan proporsi total penduduknya adalah relatif kecil: [3]


Provinsi Bangka-Belitung merupakan wilayah dengan konsentrasi etnis Cina terbesar di Indonesia yang meliputi 11,54% dari total penduduknya, sementara di Bali dengan konsentrasi terkecil yang hanya meliputi 0,34% dari total populasinya. Dalam hal jumlah, etnis Cina di Jakarta adalah yang terbesar yaitu 460.002 atau meliputi 26,45% dari keseluruhan etnis Cina yang terdapat di Indonesia. Dalam kategori usia, etnis Cina memiliki distribusi sebagai berikut: [4]


Kelompok usia terbesar etnis Cina adalah 15-19, yaitu usia muda dan dalam kategori siswa sekolah menengah atas menjelang pendidikan tinggi. Ini merupakan potensi tenaga produktif bagi perkembangan etnis Cina secara khusus, dan Indonesia secara umum. Namun, hal yang cukup memprihatinkan adalah kecenderungan usia balita yang menyusut di mana usia 0-4 lebih sedikit ketimbang 5-9 tahun. Ini mengindikasikan menurunnya tingkat pertumbuhan etnis Cina di Indonesia secara umum. Menurut Mary F. Somers Heidhues genealogi etnis Cina yang bermigrasi ke wilayah-wilayah selatan, khususnya Indonesia, berasal dari wilayah Cina bagian selatan, seperti tampak pada peta di bawah ini: [5]

Asal Orang Cina di Indonesia

Orang-orang Cina di Indonesia umumnya berasal dari Hokkien, Kanton, Hakka, Teochiu, dan Hainan. [6] Selain itu ada pula yang berasal dari Fuzhou, Henghua, dan Hokchia. Rata-rata nama didasarkan pada dialek bahasa. Namun, Heidhues mengingatkan bahwa kendati pengamat luar seringkali menganggap etnis Cina di Indonesia homogen, pada kenyataannya mereka adalah heterogen. Mereka cenderung membangun sekat sosial berdasarkan klan sehingga memisahkan kelompok satu dengan kelompok lain.


Dialek Cina


Hokkien adalah dialek dari etnis Cina asal bagian selatan provinsi Fujian. Hokkien juga merupakan dialek nenek-moyang etnis Cina yang kini diam di Singapura serta Filipina. Para pengusaha yang berasal dari Hokkien misalnya keluarga Quek di Malaysia serta kemenakannya yaitu keluarga Kewk di Singapura. Keduanya memiliki grup usaha Hong Leong dan termasuk orang Hokkien terkaya di Asia. Keluarga Tan di Filipina, pendiri Jolibee Food, juga orang Hokkien. Di Indonesia, Hokkien tersebar di Sumatera Utara (Bagan Siapiapi), Pekanbaru, Padang, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa, Denpasar, Singaraja, Banjarmasin, Kutai, Sumbawa, Manggarai, Kupang, Makassar, Kendari, Sulawesi Tengah, Manado, dan Ambon.

Kanton (Cantonese) merupakan dialek etnis Cina asal Guangdong dan Hong Kong. Dialek Kanton mayoritas digunakan di Hong Kong serta komunitas-komunitas Cina di Kuala Lumpur maupun Saigon. Pengusaha sukses dari Kanton di antaranya adalah Ronnie Chan, pemilik Hang Lung Property Group. Di Indonesia, Kanton tersebar di Jakarta, Makassar, dan Manado.

Hakka (juga disebut Keh) adalah bahasa kelompok Cina yang tersebar di utara Guangdong (selatan Fujian) dan pulau-pulau yang lebih jauh. Akibat konstannya migrasi kelompok ini, mereka tidak memiliki domisili tunggal di Cina. Kecuali di Sabah (60% etnis Cina-nya Hokkien), etnis Cina Hakka dapat ditemukan di seluruh Asia Tenggara kendati tidak merupakan mayoritas. Keluarga Lamsan di Bangkok (pendiri Thai Farmers Bank) adalah satu contoh pengusaha yang berasal dari Hakka. Di Indonesia, Hakka tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Batam, Sumatera Selatan, Bangka-Belitung, Lampung, Jawa, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Ambon, dan Jayapura.

Teochiu adalah dialek etnis Cina yang berasal dari Shantou, bagian utara Guangdong. Sekitar 80% etnis Cina di Thailand adalah Teochiu dan menempati posisi kedua di Singapura. Terdapat lima keluarga pengusaha Bangkok yaitu Wang-Lee, Sophonpanich, Tejaphaibul, Srifeungfung dan Chearavanont yang merupakan wakil dari Teochiu. Di Indonesia, Eka Tjandranegara (pendiri Mulia Group) adalah orang Teochiu. Selain itu, Teochiu juga tersebar di Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Pontianak, dan Ketapang (Kalimantan Barat).

Fuzhou adalah dialek kuno etnis Cina yang berasal dari kota-kota sekitar Fuzhou, sisi selatan Fujian. Hokchia adalah dialek yang digunakan kelompok yang dekat hubungannya dengan mereka (Fuzhou) tetapi berasal dari sekitar Fuqing. Etnis Cina dari Fuzhou ditemukan di Malaysia, utamanya di Serawak. Sementara Hokchia banyak ditemukan di Indonesia. Kendati banyak di antara mereka menjadi pengusaha sukses, klan Fuzhou dan Hokchia termasuk imigran Cina yang persentasenya kecil. Robert Kuok pengusaha Malaysia yang perusahaannya berbasis di Hong Kong adalah seorang Fuzhou. Sementara Liem Sioe Liong (aka Sudono Salim) pendiri Salim Group di Indonesia adalah seorang Hokchia. Di Indonesia, Hokchia tersebar di Bandung, Cirebon, Surabaya, dan Banjarmasin.

Hainan adalah dialek yang digunakan etnis Cina asal Provinsi Hainan. Hainan tersebar di seluruh Asia Tenggara dan relatif minoritas ketimbang etnis-etnis lainnya. Sondhi Limthongal, pendiri M Group Thailand, adalah seorang Hainan. Di Indonesia, Hainan tersebar di Pekanbaru, Batam, dan Manado.

Henghua adalah dialek sekelompok kecil etnis Cina asal Putian, dekat Fuzhou di Cina. Sebaran mereka relatif kecil di Asia Tenggara. Syamsul Nursalim (pendiri Gajah Tunggal Group) dan Mochtar Riady (pendiri Lippo Group) termasuk berasal dari Henghua ini.

Selain asal-usul wilayah, etnis Cina di Indonesia umumnya dikategorikan berdasarkan konsep totok dan peranakan. [7] Totok mengacu pada etnis cina yang bergaris keturunan asli, bukan campuran. Keluarga para totok telah berdiam di Indonesia selama dua atau tiga generasi. Mereka mengenyam pendidikan berbahasa Cina dengan orientasi budaya Cina. Bahasa sehari-hari mereka di rumah adalah Mandarin atau salah satu dialek Cina di rumah. Pekerjaan utama para Totok umumnya pedagang maupun praktisi bisnis.

Peranakan mengacu pada etnis Cina yang merupakan keturunan campuran. Keluarga mereka telah berdiam di Indonesia selama lebih dari tiga generasi. Kendati mengenyam pendidikan Cina, di rumah mereka tidak lagi menggunakan bahasa Cina. Orientasi budaya mereka pun condong pada budaya aktual di lokasi mereka tinggal (misalnya Jawa, Sumatera, Kalimantan). Rata-rata para peranakan ini mengenyam pendidikan universitas dan berprofesi sebagai dokter gigi, insinyur, pengacara, akuntan, kendati sebagian masih berprofesi seperti totok yaitu bisnis dan perdagangan.

Konsep yang mirip dengan pemilahan totok-peranakan juga diajukan oleh Sujoko Efferin dan Wiyono Pontjoharyo. [8] Keduanya membedakan etnis Cina sebagai totok dan jiaosen. Bagi Efferin dan Pontjoharyo, totok mengacu pada etnis Cina yang tetap mempraktekkan nilai-nilai Cina atau Konfusianisme di keseharian hidup, bicara dialek Mandarin atau Cina lain, mendidik anak-anaknya dalam nilai-nilai kecinaan ataupun konfusianisme, serta merayakan even-even tradisional Cina (tahun baru Cina, festival kue bulan, dan hari nenek moyang atau Cing Bing). Bagi mereka, pelestarian budaya nenek moyang adalah penting, termasuk memeluk agama Buddha ataupun Konghucu.

Di sisi lain, Jiaosen adalah etnis Cina yang tidak lagi mempraktekkan tradisi Cina dan sekadar sedikit berbicara bahasa Cina. Budaya yang mereka praktekkan merupakan campuran antara budaya Cina, Barat, dan lokal. Bagi mereka, menjadi Cina sekadar identitas etnis belaka. Mayoritas jiaosen memeluk agama Protestan, Katolik, dan Islam. Namun, untuk jiaosen ini ada pengecualian misalnya bagi Cina Benteng di Tangerang, Banten. Mereka mempraktekkan budaya Betawi, tidak bisa bicara Mandarin, dengan tetap memeluk agama Konghucu.

Selain dikotomi totok-peranakan dan totok-jiaosen, terdapat pula pengkategorian etnis Cina berdasarkan proses akulturasi budaya yang dialami Cina Perantauan (overseas Chinese) seperti yang diajukan Wang Gungwu. [9] Pertama adalah Huaqiao (Cina perantauan), kedua Huaren (etnis Cina) dan ketiga Huayi (keturunan Cina). Kini Huaren dan Huayi adalah imigran Cina di Asia Tenggara terbanyak. Selain berdasarkan garis keturunan, kategorisasi etnis Cina juga ditentukan berdasar wilayah tempat tinggal. Berdasarkan tempat tinggal ini, budaya Cina yang mereka praktekkan dipengaruhi oleh budaya dominan masyarakat sekeliling sehingga memunculkan proses akulturasi. Misalnya, etnis Cina yang tinggal di Solo sehari-hari menggunakan bahasa Jawa tinggi atau campuran bahasa Indonesia.


Kontinum Etnis Cina


Pengkategorian etnis Cina berdasar totok dan peranakan semakin berkurang relevansinya, terutama bagi peranakan. Banyak di antara mereka yang sudah melebur identitas kecinaannya dengan identitas Indonesia. Etnis Cina mengalami proses asimilasi dengan pribumi Indonesia dan semakin memantapkan posisi dirinya sebagai warganegara Indonesia lewat aneka kontinum. Berdasarkan paparan Mely G. Tan, prospek integrasi etnis Cina di Indonesia dapat dimasukkan ke dalam empat kontinum. [10]

Kontinum pertama adalah etnis cina yang terserap ke dalam komunitas lokal wilayah-wilayah Indonesia. Misalnya seorang Cina bernama Profesor Tjan Tjoe Siem, ahli Jawanologi – ilmu tentang Jawa – level internasional yang menikahi wanita asli Jawa lalu memeluk agama Islam dan menetap di Surakarta. Ia dan keturunannya kini lebih memilih Jawa atau Indonesia tinimbang Cina sebagai basis identitasnya. Seorang lainnya adalah Raden Hario Tumenggung (KRHT) Hardjonagoro, di mana gelar KRHT diberikan Susuhunan Surakarta kepada Go Tik Swan (kemudian lebih dikenal sebagai Hardjono Gotikswan). 

Gelar diberikan penguasa spiritual Surakarta kepada Gotikswan akibat keahliannya dalam hal Jawanologi, keris, batik, literatur, tarian, dan wayang Jawa. Pemberian gelar seperti ini merupakan pengakuan kultural dan politik dari pejabat Indonesia kepada seorang Cina. Ini mirip pengangkatan Chris John, petinju Indonesia beretnis Cina, yang mampu membawa nama harum Indonesia di pentas tinju Internasional, di samping sederetan nama lain seperti Alan Budikusuma, Rudi Hartono, atau Liem Swie King).

Kontinum kedua, etnis Cina yang berkonversi menjadi Islam. Figur yang paling terkenal adalah Junus Jahja, ekonom lulusan Rotterdam (Belanda), yang memeluk Islam tahun 1979 dan menikahi seorang wanita Sunda. Ia menyatakan, bahwa jalan terbaik untuk asimilasi adalah dengan menjadi Muslim, agama yang meliputi 87% populasi Indonesia. Dalam kategori ini juga termasuk Tjio Wie Thay yang lebih dikenal sebagai Masagung, pendiri dan pemilik Toko Gunung Agung. Masagung juga mendirikan Islamic Center yang menelan biaya 1.500.000.000 rupiah di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat.

Tokoh Islam beretnis Cina lain adalah Jos Sutomo serta Jusuf Hamka (anak angkat Buya Hamka, ulama). Profesor Muhammad Budiyatna adalah contoh lain akademisi Cina yang berkonversi ke Islam yang merupakan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia periode 1994 - 1999. Profesor Haji Muhammad Hembing Wijayakusuma adalah ahli pengobatan tradisional (herbalis) yang juga seorang Cina, dan titel haji menjelaskan Hembing telah berkonversi ke Islam. 

Tokoh-tokoh lainnya adalah Tan Hok Liang atau lebih dikenal sebagai Anton Medan (dai), Nio Cwang Chung (Muhammad Safi’i Antonio, pakar ekonomi syariah), Putri Wong Kam Fu (paranormal, perempuan Cina yang mengambil nama Leoni Fatimah setelah berkonversi ke Islam), serta seorang perempuan lain bernama Tan Giok Sien (Qomariah Baladraf) tinggal di Gorontalo yang berprofesi sebagai dai.

Suatu studi yang dilakukan Aris Ananta, et.al., pada tahun 2000 menghadirkan data agama dari tiga kelompok imigran Indonesia (Cina, Arab, dan India) sebagai berikut: [11]


Sebanyak 5,41% etnis Cina di Indonesia berkonversi menjadi Islam, 35,09% berkonversi menjadi Kristen, 53,82% memeluk agama Buddha, 1,77% berkonversi menjadi Hindu, dan sejumlah 3,91% agama lain termasuk Konghucu. Banyaknya etnis Cina yang memeluk agama Buddha disebabkan pada masa Orde Baru Konghucu belumlah lagi diakui sebagai agama sah di Indonesia.

Kontinum ketiga adalah mereka yang berasimilasi dengan cara menyerap budaya komunitas lokal tempat tinggal. Mereka adalah K. Sindhunata, Harry Tjan Silalahi, Indradi, dan mereka-mereka yang berkonversi ke dalam agama Katolik dan Protestan. Mereka biasanya berkegiatan di organisasi-organisasi kebangsaan serta politik.

Kontinum keempat adalah etnis Cina yang secara kultural masih berorientasi Cina, mengenyam pendidikan Cina, dan menjadi warganegara lewat naturalisasi. Di antara mereka adalah Sudono Salim (big businessman) yang mempraktekkan sub bahasa Indonesia dengan aksentuasi Cina. Contoh lainnya Mochtar Ryadi dan Eka Tjipta Widjaja. Mereka masih diacu sebagai sisa-sisa dari Cina totok.

Secara ekonomi, tidak seluruh etnis Cina ada dalam taraf ekonomi mampu kendati yang mampu ini lebih terlihat karena sering disorot media massa dan memiliki perusahaan besar. Cina Benteng di wilayah Tangerang adalah contoh dari kategori ini. Untuk sekadar melakukan tindak perangkuman, maka menurut Suryadinata, etnis Cina di Indonesia dapat diklasifikasikan berdasarkan orientasi budaya, politik, ekonomi, dan kewarganegaraan dengan ketentuan berikut: [12]

Culturally, the Chinese were divided in the past into locally born, Indonesia-speaking peranakan and foreign born Chinese-speaking totok. But nowadays the absolute majority is either peranakan or peranakan-totok. In terms of religion, some are either Buddhists, Confucians, or the followers of a mixture of Buddhism, Taoism, and Confusianism; some are Christians, and others are Muslims. Politically, ther are divided into pro-Jakarta, pro-Beijing, and pro-Taipei, but the majority is pro-Jakarta. Economically, they are also divided into upper class, middle class, and the lower class, and it appears that the middle class forms the majority. In terms of citizenship, they are divided into Indonesian citizens and foreigners, with the majority holding Indonesian citizenship.

Secara budaya, etnis Cina dibagi menjadi Peranakan dan Totok. Namun, peranakan dan peranakanized totok (totok peranakan) adalah mayoritas. Dalam hal agama, selain memeluk agama tradisional Cina (Buddha, Kong Hu Cu, Taoisme), etnis Cina juga telah memeluk agama Islam serta Kristen (Katolik maupun Protestan). Secara politik etnis Cina berorientasi pada Jakarta (Indonesia), Beijing (Cina), Taipei (Taiwan), dengan pro Jakarta sebagai mayoritasnya. Secara ekonomi, etnis Cina terbagi atas Kelas Atas, Kelas Menengah, dan Kelas Bawah, dengan kelas menengah selaku mayoritasnya.

Secara sosial-politik, etnis Cina di Indonesia memiliki tiga pilar. Pilar-pilar tersebut adalah: (1) Organisasi kecinaan seperti partai politik, LSM, klan, dan asosiasi alumni; (2) Media massa seperti Guoji Ribao; dan (3) Pendidikan Cina. Ketiga pilar ini berfungsi selaku basis identitas budaya Cina, baik untuk pengembangan budaya maupun berasimilasi dengan masyarakat Indonesia. [13]

Partai politik Cina yang berdiri di Indonesia adalah Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (Parti), Partai Pembauran Indonesia, dan Partai Bhinneka Tunggal Ika (PBI). Partai Pembauran Indonesia menghilang akibat kurangnya dukungan, Parti sekadar partai politik di atas kertas oleh sebab ia tidak bisa ikut Pemilu 1999 dan 2004 karena tidak lulus syarat administratif, dan PBI dapat ikut Pemilu 1999 dan beroleh satu kursi di parlemen nasional serta di sejumlah wilayah seperti Kalimantan Barat dan Riau. PBI lalu terbelah menjadi PBI dan Partai Perjuangan Bhinneka Tunggal Ika tetapi keduanya malah tidak bisa tampil di Pemilu 2004 karena tidak lulus syarat administratif. [14]

Pandangan etnis Cina terhadap partai politik terbelah. Sebagian menganggap perlu sementara lainnya tidak menyetujui pembentukannya. Pihak yang tidak setuju lalu membentuk organisasi non partai berupa seperti lembaga swadaya masyarakat bernama Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) atau Yinbua Baijiaxing Xiehui. PSMTI lalu terbelah di mana yang memisahkan diri membentuk Perhimpunan Keturunan Tionghoa Indonesia (INTI atau Huayi Zonghui). Selain PSMTI dan INTI, terdapat sejumlah LSM kecil seperti Gandi, Solidaritas Nusa Bangsa, SIMPATIK, dan lain-lain dan lain-lain. INTI dan PSMTI adalah dua lembaga swadaya masyarakat kalangan dari masyarakat Cina penting di Indonesia.

Seperti telah disebutkan di bagian atas tulisan, secara kultural, etnis Cina dapat dibedakan menurut klan. Klan adalah pembagian etnis Cina berdasar asal-usul keturunan. Lewat garis klan maka etnis Cina dapat dibagi ke dalam asosiasi-asosiasi seperti: Hokkien, Hockchia, Hakka, dan Cantonese. Di luar keempat asosiasi ini, terdapat pula sekitar 300 asosiasi serupa yang terbentuk dari asal-usul keturunan ini.

Dalam hal pendidikan, etnis Cina di Indonesia tertarik kepada tiga bahasa: Indonesia, Cina, dan Inggris. Sebab itu banyak berkembang lembaga pendidikan etnis Cina yang menggunakan tiga bahasa tersebut. Sekurangnya terdapat lima puluh lembaga pendidikan yang mengakomodasi etnis Cina di Jakarta. Kurikulum yang diadaptasi adalah Kurikulum Sekolah Nasional Plus dan Kurikulum Internasional. Kurikulum Sekolah Nasional Plus tidak terlampau berbeda dengan kurikulum sekolah-sekolah negeri dan swasta lain di Indonesia. Perbedaannya, bahasa Cina dimasukkan sebagai subyek pelajaran. Akibat sulitnya mencari guru bahasa Cina, sekolah-sekolah tersebut seringkali langsung mendatangkan guru bahasa Cina dari negara asalnya. 

Kurikulum Internasional dianut oleh sekolah-sekolah etnis Cina diantaranya akibat pembatasan ekspresi budaya Cina di masa Soeharto. Sekolah-sekolah tersebut didirikan oleh etnis Cina yang orientasi politiknya condong pada Taiwan, bukan Republik Rakyat Cina (RRC). Bahasa Mandarin dipergunakan sebagai bahasa pengantar. Sayangnya, etnis Cina lokal Indonesia tidak diperkenankan masuk ke sekolah ini. Salah satunya adalah Jakarta International School yang induknya ada di Singapura.

Selain lewat sekolah, pengembangan budaya Cina juga berlangsung lewat media massa. Terbit media massa berbahasa Cina di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan. Harian yang terkenal adalah Guoji Ribao, Yindunixiya Shang Bao, Heping Ribao, Shijie Ribao, dan Qiandao Ribao. Empat yang pertama terbit di Jakarta, lainnya di Surabaya. 

Sifat dari media massa Cina di atas adalah internasional. Misalnya, Guoji Ribao berafiliasi dengan Guoji Ribao yang berpusat di Amerika Serikat, sementara Shijie Ribao berkait dengan Shijie Ribao yang berbasis di Taiwan. Selain itu, juga terbit harian-harian berbahasa Cina yang berpusat di Cina daratan maupun Hong Kong seperti Guoji Ribao (beredar di Jakarta) berkait dengan Renmin Ribao yang dimiliki oleh pemerintah Cina daratan (Beijing) serta Wen Wei Po (pusatnya Wenhui Bao, Hong Kong).

Agama yang dianut oleh etnis Cina di Indonesia beragam. Kong Hu Cu adalah agama mayoritas etnis Cina, yang berinduk pada Majelis Umat Konghucu Indonesia atau MATAKIN). Matakin semakin mendapat keleluasaan bergerak di masa administrasi Gus Dur. Umat Konghucu Cina dapat merayakan Tahun Baru Cina (Imlek). Gus Dur juga mencabut Keppres No.14/1967 yang melarang etnis Cina di Indonesia merayakan Tahun Baru mereka di lingkup publik. Megawati Soekarnoputri, presiden Indonesia selanjutnya, menetapkan Hari Tahun Baru Cina (Imlek) sebagai libur nasional.

Di bidang ekonomi, etnis Cina menunjukkan kepiawaiannya. Ironisnya, akibat kepiawaian ini muncul stereotif bahwa kerusakan ekonomi Indonesia adalah akibat ulah mereka pula. Berdasarkan urutan kekayaannya, Leo Suryadinata memuat tabel dua belas perusahaan milik etnis Cina sebelum dan sesudah reformasi: [15]


Bakrie Group, Kalbe, dan Wicaksana dianggap sebagai perusahaan bukan milik keturunan Cina. Dalam tahun 1994, Salim Group menempati posisi puncak sementara pada 2004 perusahaan yang sama tidak lagi mencapai posisi 12 besar. Tahun 2004, Gudang Garam menempati posisi puncak klasemen perusahaan terkaya Indonesia, disusul Djarum, Sampoerna dan seterusnya. Perusahaan Cina yang sukses adalah perusahaan yang memiliki ikatan kuat dengan klan-klan Cina. Pada era Suharto, klan Hockchia memegang kendali, sementara pasca reformasi dominasi klan Hockchia mulai mengendur sementara kalangan non keturunan Cina mulai merangsek masuk ke jajaran papan atas perusahaan atau pengusaha terkaya Indonesia seperti tampak pada data Forbes tahun 2011 berikut: [16]


Etnis Cina yang ada di Indonesia menyumbangkan khasanah budaya yang tidak kecil. Produk budaya mereka kini banyak dinikmati secara luas oleh kalangan penduduk Indonesia. Produk budaya tersebut dapat berupa arsitektur, makanan, pengobatan, bahkan seni bela diri.

Orang-orang Tionghoa (sering juga disebut Cina) merupakan etnis yang berasal dari luar Indonesia. Namun, mereka ini telah lama hidup dan mengembangkan kebudayaan mereka. Bahkan, banyak di antara mereka yang telah menjadi warganegara Indonesia. Ini akibat anutan atas Ius Soli bagi kewarganegaraan Indonesia. Siapapun yang lahir di tanah Indonesia diakui pemerintah sebagai warganegara Indonesia. 

Banyak tokoh Tionghoa yang memiliki saham dalam perjuangan kemerdekaan, misalnya Kapten John Lie, yang bertempur di pihak Indonesia saat revolusi fisik (dari pemerintah Indonesia, John Lie mendapat gelar pahlawan). Kemudian banyak di antara keturunan Tionghoa yang bergiat di bidang ekonomi, yang sedikit banyak mengurangi angka pengangguran di Indonesia dengan mendirikan sejumlah perusahaan. Bahkan beberapa keturunan Tionghoa menjadi politisi Indonesia semisal Kwik Kian Gie, Alvin Lie, atau menteri seperti Mari Elka Pangestu.



Ruko


Ruko, adalah salah satu komponen material yang dikembangkan etnis Cina di Indonesia. Ruko merupakan bangunan khas Pecinan (kota Cina di masyarakat non-Cina). Ruko di negeri asalnya banyak terdapat di provinsi Guangdong dan Fujian, di samping pecinan-pecinan yang tersebar di kota-kota pantai Asia Tenggara. Ruko berkembang karena kepadatan suatu kota dan terjadi akibat percampuran arsitektur guna mendukung perdagangan di sepanjang kota-kota pantai antara Tiongkok dan Asia Tenggara. Ruko merupakan perpaduan antara ruang aktivitas bisnis di lantai bawah dengan tempat tinggal di lantai atas.

Bentuk dasar ruko di daerah Pecinan dindingnya terbuat dari bata dan atapnya berbentuk perisai dari genting. Setiap unit dasar mempunyai lebar 3–6 meter dengan panjang 5–8 kali lebarnya. Pada setiap ruko terdapat satu atau dua meter teras sebagai transisi antara bagian ruko dan jalan umum. Kini ruko banyak diadaptasi oleh pengembang perumahan, perkantoran, dan pusat jual beli di Indonesia. 

Satu deretan ruko bisa terdiri dari belasan unit yang digandeng menjadi satu. Biasanya, orang-orang kaya memiliki lebih dari 1 unit dalam deretan ruko tersebut. Awalnya, desain ruko sarat dengan gaya Tionghoa. Namun, akhir abad 19 dan awal 20 sudah terjadi percapuran dengan sistem konstruksi Barat (mulai menggunakan kuda-kuda pada konstruksi atapnya) dan ragam hias campuran dengan arsitektur Eropa. Bahkan, menjelang abad ke-21 corak arsitektur Tionghoa pada ruko sudah hilang sama sekali.


Kuntao


Kuntao adalah bahasa Hokkien dalam menggambarkan aneka sistem bertarung Cina yang berkisar dari tarung tangan kosong hingga menggunakan senjata. Secara bahasa, Kuntao berasal dari Kun yang artinya tinju dan toa yang artinya jalan atau cara. 

Jadi, secara bahasa Kuntao artinya cara menggunakan tinju. Gaya Kuntao yang dominan di Indonesia adalah yang berasal dari Hokkien, Shantung, Kongfu, dan Kanton. Dari daerah-daerah tersebut Kuntao tersebut dipraktekkan di wilayah Jawa dan Madura. Teknik-teknik Kuntao misalnya Thit Kun dicirikan pelemparan terhadap musuh yang dilakukan dari arah samping. Teknik lainnya Thay Lohan Tjie atau tangan manusia agung, di mana digunakan teknik jangkauan pendek tangan dan tusukan jari ke arah bagian tubuh terlemah musuh.


Akupunktur


Akupunktur merupakan bagian dari pengobatan Cina yang sudah berkembang di sekujur Indonesia. Akupunktur merupakan manipulasi therapatetik dengan media jarum yang ditusukkan di bagian-bagian tertentu tubuh manusia. Akupunktur dilakukan bersamaan dengan teknik moxibustion yaitu penghangatan wilayah yang dilakukan lewat tusukan jarum untuk mengenyahkan racun tubuh. Teknik Akupunktur berasal dari Dinasti Han (475 SM – 24 M).


Mie


Asal-usul mie di Indonesia diperdebatkan antara apakah berasal dari Cina, Arab, ataukah Italia. Perdebatan ini berakhir tatkala ditemukan tulisan awal mengenai mie dari buku yang ditulis pada zaman Han Timur kira-kira tahun 25 – 220 Masehi. [17] Bahkan penggalian arkeologi di wilayah Lajia di utara Cina mengungkap penemuan mie halus berwarna kekuningan dengan panjang 50 cm. 

Mie tersebut masih segar karena guci tempatnya terbalik sehingga memungkinkan kondisi vakum udara. Penelitian radiokarbon langsung diadakan dan dipastikan usia mie tersebut adalah 4000 tahun serta terbuat dari tepung biji-bijian rumput, bukan dari tepung seperti mie seperti yang dibuat dewasa ini. Di Indonesia, awalnya mie dibawa ke kepulauan nusantara oleh para pedagang Tiongkok yang datang mencari rempah-rempah. Para pedagang ini kemudian menetap, terutama di pesisir utara pulau Jawa. Antara tahun 1602 – 1799 telah dibuka rumah makan dan warung mie di Batavia. Di masa kemudian, mie instant ditemukan oleh orang Jepang. Namun tetap saja, mie identik dengan Cina.


Stratifikasi Sosial


Secara sederhana masyarakat Tionghoa di Indonesia dibedakan atas lapisan buruh dan majikan ataupun golongan miskin dan kaya. Namun, perbedaan ini tidaklah mencolok karena golongan buruh tidak menyadari akan kedudukannya, demikian pula sebaliknya. Ketidaksadaran ini akibat masih adanya ikatan kekeluargaan antara buruh dan majikan. Sebuah perusahaan (kongsi) orang Tionghoa biasanya merupakan perusahaan yang dikerjakan oleh suatu kelompok kekerabatan dan kadang-kadang merupakan usaha dari sekelompok orang yang berasal dari satu desa di Cina sebelum ke Indonesia. [18]

Tionghoa peranakan Indonesia kebanyakan orang hokkien, yang menganggap diri lebih tinggi ketimbang tionghoa totok karena menganggap tionghoa totok umumnya berasal dari lapisan kuli dan buruh. Sebaliknya tionghoa totok memandang rendah tionghoa peranakan karena dianggap berdarah campuran. Dalam bidang pendidikan juga terjadi segregasi. Ada anak-anak Cina yang mengikuti pendidikan Cina berorientasi RRC sementara sebagian lainnya mau mengikuti pendidikan Indonesia dan Barat (sekolah umum). Terdapat pemisahan golongan berdasarkan pendidikan yang berlainan itu. Masing-masing menganggap lawannya lebih rendah.


Pimpinan Masyarakat Tionghoa


Saat kekuasaan Belanda, pemerintah kolonial mengangkat salah satu anggota koloni Cina sebagai pimpinan. Pemimpin yang diangkat lalu memakai aneka pangkat seperti major (pangkat tertinggi), kapitein, luitenant ataupun wijkmeester (ketua RW). Para pimpinan ini punya tugas menghubungkan orang Tionghoa dengan pemerintah Belanda. Mereka juga disebut kongkoan yang berarti kantor, karena bekerja demi kepentingan orang Tionghoa. Tugas utama kongkoan menjaga ketertiban dan keamanan dalam komunitas Tionghoa di suatu daerah atau kota, mengurus adat istiadat, kepercayaan, perkawinan, dan perceraian, serta memutuskan segala hal yang memiliki kaitan dengan komunitas mereka. 

Para pimpinan ini juga mencatat kelahiran, perkawinan dan kematian serta mengangkat sumpah. Kongkoan punya hak mengadili segala perkara (misalnya perkelahian, penipuan) yang terjadi di antara orang Tionghoa. Dalam hirarki kuasa kolonial, kongkoan berfungsi memberi nasehat pada pemerintah Belanda, terutama dalam masalah penarikan pajak. Kongkoan juga lembaga yang berfungsi menyalurkan aneka peraturan pemerintah kepada masyarakat Tionghoa. Umumnya para pimpinan dipilih menurut besarnya pengaruh personal dan penghormatan yang diberikan orang-orang Tionghoa baik yang miskin maupun kaya pada mereka. Tatkala kekuasaan Belanda berakhir, fungsi para kongkoan ini bernasib sama.


Perkumpulan dan Organisasi Orang Tionghoa


Awalnya orang Tionghoa di beberapa kota besar mendirikan perkumpulan Kamar Dagang yang disebut Sianghwee. Kamar Dagang adalah perkumpulan pedagang Tionghoa yang bekerja untuk kepentingan para anggotanya, khususnya dalam pengurusan pajak. Selain itu terdapat pula aneka perkumpulan yang didasarkan asal-usul desa mereka di tanah Tiongkok. Sejak awal abad ke-20, nasionalisme Cina dengan cepat menjalar. Ini akibat kekecewaan orang Tionghoa atas pemerintah Belanda. 

Tahun 1900 berdiri sebuah perkumpulan yang bertujuan untuk memajukan nasionalisme Cina berdasarkan religi Kung Fu-tse dan menyatukan orang Tionghoa yang masih provinsialistik. Perkumpulan itu awalnya hanya ada di Jakarta tetapi lalu meluas dalam kemunculan aneka cabang di seluruh Indonesia. Pada tahun 1927 kaum cendekiawan peranakan yang beroleh pendidikan Belanda mendirikan suatu organisasi yang disebut Chung Hua Hui yang mewakili orang Tionghoa di volksraad. Setelah Indonesia merdeka organisasi-organisasi yang sebelumnya ada dibubarkan dan dilebur ke dalam Baperki, sebuah organisasi yang mewakili orang-orang Tionghoa peranakan dalam Dewan Perwakilan Rakyat. Di samping itu terdapat pula aneka perkumpulan agama Kristen seperti Sam Kauw.


Catatan Kaki

[1] Leo Suryadinata, Chinese Migration and Adaptation in Southeast Asia: The Last Half-Century, dalam Aris Ananta and Evi Nurvidya Arifin, International Migration in Southeast Asia (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2004) p.76.

[2] ibid., p.74.

[3] ibid., p. 81. Hal ini tidak menafikan bahwa di luar provinsi-provinsi tersebut etnis Cina juga berdomisili kendati dengan jumlah lebih kecil dari yang tertera pada tabel.

[4] ibid., p.83.

[5] Peta diambil dari World Fact Book 2021. Perkiraan lokasi didasarkan reka ulang atas Mary Somers Heidhues, Golddiggers, Farmers, and Traders in the “Chinese Districts” of West Kalimantan, Indonesia (New York: Cornell Southeast Asia Program, 2003) p.31. Peta diambil dari printable-maps.blogspot.com. Wilayah asal imigran ditandai belahketupat (atau mirip belahketupat).

[6] Michael Backman and Charlotte Butler, Big in Asia: 25 Strategies for Business Success (New York: Palgrave Macmillan, 2003) pp.26-7. Paparan selanjutnya banyak yang menggunakan sumber ini.

[7] Mely G. Tan, The Etnic Chinese in Indonesia: Issues of Identity dalam Leo Suryadinata, ed., Ethnic Chinese as Southeast Asians (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 1997) p.42.

[8] Sujoko Efferin and Wiyono Pontjoharyo, Chinese Indonesian Business and the Rise of China dalam Leo Suryadinata, ed., Southeast Asia’s Chinese Business in an Era of Globalization: Coping with the Rise of China (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2006) p.105

[9] Wang Gungwu seperti dikutip Leo Suryadinata, Chinese Migration and Adaptation in Southeast Asia dalam Aris Ananta and Evi Nurvidya Arifin, eds., International Migration in Southeast Asia (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2004) p.77.

[10] Mely G. Tan, The Etnic Chinese ..., op.cit., pp. 55-60.

[11] Aris Ananta, et.al., Demographic Analysis of Chinese Indonesians dalam Leo Suryadinata, ed., Chinese Indonesians .... , p.31.

[12] Leo Suryadinata, Chinese Indonesians in An Era of Globalization: Some Major Characteristics dalam Leo Suryadinata, ed., Ethnic Chinese in Contemporary Indonesia (Singapore : Institute of Southeast Asian Studies, 2008) pp.1-15. Paparan selanjutnya, jika tidak diseling footnote lain, didasarkan pada sumber ini.

[13] ibid., p.3

[14] Terdapat dua Cina Totok-Peranakan yang bergiat di lapangan politik yaitu Nurdin Purnomo (Wu Nengbin) dan Susanto T.L. (Lin Guanyu). Keduanya bicara dalam dua bahasa (Cina dan Indonesia) dengan aksentuasi Cina yang kental.

[15] Leo Suryadinata, Chinese Indonesians .... op.cit., p.12.

[16] Data tahun 2011 diambil dari www.forbes.com/lists/2011/80/indonesia-billionaires-11_rank.html. Download 16 Januari 2011 14:43.

[17] Suryatini N. Ganie dan Myra Sidharta, Dapur Naga di Indonesia (Jakarta: Gramedia, 2008) h. 130.

[18] Puspa Vasanty, Kebudayaan Orang Tionghoa di Indonesia dalam Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Jakarta: Djambatan, 2007) h.353-373. Uraian selanjutnya, sebelum diseling footnote, didasarkan pada karya Vasanty ini.
Reactions

Posting Komentar

0 Komentar