Ad Code

Gaetano Mosca dan Teori Elit Klasik

Dalam perbincangan seputar teori elit, Gaetano Mosca termasuk salah satu pelopornya. Konsep yang diperkenalkan Mosca adalah The Ruling Class atau kelas berkuasa. Pikiran Mosca tentang elit terdapat dalam karyanya Elementi di Scienza Politica. Di dalam buku tersebut terdapat sebuah bab khusus yang membahas tentang The Ruling Class. 

Siapakah Gaetano Mosca

Gaetano Mosca (1858 – 1941) adalah sarjana hukum Italia merangkap teoretisi politik. (Krauss, 2011: 1062-3). Mosca juga berprofesi sebagai politisi dan jurnalis. Ia lahir di Palermo, yang kemudian menjadi Kingdom of Two Sicilies. Tahun 1861 Kingdom of Two Sicilies dianeksasi oleh Kerajaan Italia. Mosca belajar di Universitas Palermo dan menggondol gelar tahun 1881. Selama 1885 hingga 1888 ia mengajar hukum konstitusi di kampusnya. Tahun 1887 ia pindah ke Roma dan menjadi editor jurnal prosiding yang dikelola Italian Chamber of Deputies. Posisi editor ia jabat hingga 1897. Lalu ia mengajar pula di Universitas Roma selama 1888 hingga 1896 dengan matakuliah Hukum Konstitusi lalu menjadi ketua hukum konstitusi di Universitas Turin antara 1896 hingga 1924. Setelah itu ia kembali ke Universitas Roma  selaku ketua hukum publik yang ia jabat antara 1924 hingga 1933. 

Tahun 1909 Mosca masuk ke dalam arena politik, memenangkan kursi di Chamber of Deputies dari jalur Partai Liberal. Ia bertugas selaku menteri muda dalam kabinet Antonio Salandra yang saat itu menjadi sekretaris dua urusan koloni. Lepas 10 tahun sebagai deputi, Mosca diangkat menjadi anggota Senat Italia oleh Raja Victor Emmanuel III tahun 1919. Banyak kaum fasis mendasarkan gerakan mereka atas karyanya, Mosca sendiri menolak fasisme lalu mengundurkan diri dari Senat tahun 1926. Sebagai jurnalis, Mosca menulis di koran Corriere della Sera yang berpengaruh di Italia saat itu, juga Tribuna yang beredar di Roma.

 

Kelas Berkuasa, Kelas Politik, Kelas Minoritas

Apa yang Mosca ungkapkan mengenai masalah elit berkuasa, terdapat dalam kutipan berikut:

Among the constant fact and tendencies of the life of a state, one is so obvious that it is apparent to the most casual eye. In all societies – from societies that are very meagerly developed and have barely attained the dawning of civilization, down to the most advancced and powerful societies – two classes of people appear – a class that rules and a class that is ruled. The first class, always the less numerous, performs all political functions, monopolizes power and enjoy the advantages that power brings, whereas the second, the more numerous class, is directed and controlled by the first, in a manner that is now more or less legal, now more or less arbitrary and violent, and supplies the first, in appearance at least, with material means of subsistence and with the instrumentalities that are essential to the vitality of the political organism. (Hartmann, 2004: 9) .

[Di antara fakta dan kecenderungan tetap kehidupan negara, satu segmen begitu nyata terpisah menurut kacamata biasa. Di semua masyarakat – dari masyarakat yang baru mulai tumbuh atau baru bangkit dari senja peradaban, hingga masyarakat paling maju dan kuat – dua kelas manusia selalu tampak --- satu kelas yang memerintah dan kelas lain yang diperintah. Kelas pertama, selalu lebih sedikit, melakukan semua fungsi politik, memonopoli kekuasaan seraya menikmati keuntungan yang dibawa oleh kekuasaan, di mana yang kedua, yang jumlahnya lebih besar, selalu diatur dan dikendalikan oleh yang pertama, dengan cara yang kini kurang lebihnya bersifat legal, yang sekarang kurang lebihnya secara arbiter atau kekerasan, yang selalu menyuplai [kebutuhan] yang pertama, dalam hal, sekurangnya dengan komoditas subsisten dan juga dengan aneka kemanfaatan yang esensial bagi terus hidupnya organisme politik.]

Mosca juga mengamati bahwa bahkan di dalam sistem perwakilan politik, terdapat Elit Berkuasa. Di dalam parlemen sebagai misal, terdapat sekelompok kecil anggota parlemen yang terorganisir, yang selalu mengendalikan mayoritas anggota parlemen yang tidak terorganisir. Dengan demikian, Mosca berpendapat tidak ada itu Pemerintahan oleh Mayoritas, sebab yang ada adalah pengendalian parlemen oleh sekelompok elit yang terorganisir dan lebih berkuasa dari para anggota parlemen lainnya. Minoritas kecil yang selalu memerintah ini disebut Mosca sebagai “kelas politik.” 

Pengamatan Mosca ini cukup berharga dalam melakukan analisis atas politik dalam parlemen. Misalnya di Indonesia, anggota parlemennya cukup besar yaitu 500an orang. Mereka masing-masing terpecah ke dalam fraksi-fraksi. Di setiap fraksi terdapat kelompok minoritas yang selalu menjadi komunikasi dengan minoritas lain di luar parlemen. Mereka ini bisa berstatus ketua umum partai, sponsor partai, atau elit berpengaruh lainnya, yang terkesan tidak ada keterlibatan dengan kinerja anggota parlemen. Namun, kelompok kecil inilah sesungguhnya yang mengarahkan ke mana anggota parlemen di dalam fraksi untuk mengarahkan perhatian dan keputusan-keputusannya. 

Mengapa jumlah yang sedikit itu begitu menentukan? Mosca menekankan bahwa “yang sedikit” itu “terorganisir” sementara “yang banyak” itu “tidak terorganisir.” Mengapa yang sedikit itu lebih terorganisir ketimbang yang banyak? 100 orang yang terlatih instrumen musik mampu menyuguhkan musik klasik yang menarik, ketimbang 1000 orang tak terlatih. Bagi Mosca pula, semakin besar penduduk suatu negara, maka semakin kecil jumlah elit terorganisir yang diperlukan untuk mengendalikan masyarakat tersebut. Menurut Mosca, minoritas berkuasa terdiri atas para individu yang sifatnya lebih unggul dari massa yang mereka perintah. Keunggulan tersebut bisa berupa kepemilikan material dan intelektual. Bagi Mosca, superioritas, yang didukung prestise moral, yang ia lihat sebagai alat utama yang dibutuhkan kaum elit untuk mengendalikan massa. 

Salah satu basis kekuasaan seorang elit adalah kekayaan. Mosca menyatakan “Orang yang berkuasa selalu lebih kaya ketimbang sekadar berani.”( Hartmann, 2004: 10). Jika kekayaan diperoleh dari penguasaan tanah, jumlahnya akan semakin meningkat seiring digunakannya uang sebagai hasil perkembangan perdagangan dan industri. Bagi Mosca pula, kekayaan yang sifatnya mobile (aset yang diinvestasikan) secara umum lebih superior ketimbang kekayaan yang sifatnya diam (aset tidur). Aset yang sifatnya mobile lebih mudah diorganisir. Bagi Mosca lebih mudah uang berjumlah besar untuk terkonsentrasi di tangan sejumlah individu. Ini ia buktikan bahwa hanya ada sedikit individu berada dalam posisi mengendalikan aneka bank utama suatu negara, perusahaan transportasi, atau perusahaan publik lainnya. Kaum yang “sedikit” itu punya ratusan juta dalam penguasaannya. Uang tersebut adalah kekuatan mereka untuk melakukan pengendalian atas kepentingan lain yang bertabrakan dengan kepentingan mereka, juga melakukan intimidasi dan korupsi yang berlangsung di kementerian, badan legislatif, surat kabar. Mosca akhirnya menyimpulkan, kaum Plutokrat tersebut adalah paling berkuasa dari penguasa material lainnya. 

Mosca juga melontarkan argumentasi lain mengenai masalah elit ini. Bahwa sejak kelas politik berkuasa bukan lagi lewat kebajikan atau garis keturunan seperti masa lampau, tetapi atas basis penguasaan “kekuatan sosial” yang diperlukan untuk mencapai persyaratan superioritas intelektual dan ekonomi dan prestise moral, maka setiap perubahan dalam kekuatan sosial (seperti munculnya uang sebagai sumber baru kekayaan) akan mendorong perubahan komposisi kelas politik yang berkuasa. Akan terjadi konflik antara kekuatan politik. Sehingga memungkinkan, bagi Mosca, untuk menjelaskan sejarah manusia sebagai “konflik antara kecenderungan dari elemen dominan untuk memonopoli kekuasaan politik dan metransmisikan penguasaan tersebut lewat pewarisan, dan kecenderungan terhadap dislokasi kekuatan lama dan kemunculan kekuatan baru.” (Hartmann, 2004: 10). Elit lama cenderung ingin mempertahankan status elit politiknya, sementara elit yang baru tumbuh justru ingin menjungkalkan elit lama. Pengamatan Mosca ini bernilai manakala kita hendak melakukan analisis atas fenomena perubahan kekuasaan. Namun, apabila hendak menganalisis perubahan kekuasaan alangkah lebih baik apabila dilengkapi dengan penjelasan Mosca mengenai Formula Elit yang akan dibahas di bagian bawah.  

Dalam analisisnya mengenai elit, Mosca juga meletakkan observasinya pada kualitas diri para elit. Bagi Mosca, kualitas diri para elit itu berbeda-beda bergantung kebutuhan dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. (Bellamy, 2004: 26). Bagi Mosca, elit tetap berkuasa kendati kekuatannya melemah, sebagaimana mungkin saja terjadi di masyarakat otokratik. Namun, di masyarakat liberal tidak bisa, karena dalam masyarakat ini kekuatan seorang elit harus kuat. Rekrutmen yang dilakukan para elit adalah perimbangan atas dua kecenderungan. Pertama, kecenderungan Aristokratik, dengan mana sang elit merekrut dari anggotanya sendiri. Kedua, kecenderungan demokratik, dengan mana elit berkuasa merekrut dari orang-orang yang ia kuasai. Dalam peralihan kekuasaan Soeharto ke Habibie, sebenarnya Soeharto telah mempersiapkan anaknya untuk meneruskan dinasti politik. Namun, terdapat faktor eksternal yang membuat hal tersebut tidak berlangsung mulus. Dalam upayanya mempertahankan diri, pertama kami Soeharto merekrut elit dari lingkaran dalamnya untuk duduk di jabatan menteri. Setelah reaksi publik kurang baik, ia mulai merekrut (secara demokratik) menteri-menteri dari lingkungan lebih luar kenyataannya ia kurang berhasil. Habibie setelah menjadi presiden ternyata menunjukkan kualitas berbeda seperti melekat pada Soeharto. Terjadilah perubahan elit di tingkat nasional. 

Kembali kepada Mosca, ia menyatakan bahwa organisasi otokratik tidak mencerminkan kecenderungan demokratik, seperti berlaku di Gereja Katolik dan kalangan aristokratik di masyarakat liberal, juga di lingkup dinasti politik seperti keluarga Nehru. (Bellamy, 2004: 26). Bagi Mosca, kendati elit berkuasa cenderung menyukai gaya aristokratik, kemampuan mereka untuk bertahan bergantung pada sejumlah elemen demokratik. Jika karakter seorang elit berubah, elit tersebut akan terus bertahan. Alasan Mosca adalah, adanya superioritas dari terorganisasikannya kaum minoritas. Kelompok minoritas dapat membangun dirinya menjadi kelompok kohesif secara lebih mudah ketimbang massa yang jumlahnya besar. Kelompok minoritas ini sanggup bertindak cepat dan terarah. Dari sinilah Robert Michels mengembangkan Hukum Besi Oligarkinya. (Bellamy, 2004: 26). 

Selanjutnya Mosca mengembangkan konsepsi yang ia sebut formula politik. (Birch, 2001: 190). Formula politik adalah pembenaran bahwa mereka layak memerintah suatu populasi. Mosca menulis bahwa formula politik elit Cina adalah ‘penafsir kehendak Putra Surga’, elit Islam ‘penafsih kehendak Allah’, aristokrat Perancis ‘hak ketuhanan para raja,’ elit politik Ingris ‘kedaulatan parlemen,’ dan para penguasa Amerika Serikat ‘kehendak rakyat.’ Dengan kekayaan yang dimiliki, para elit lalu mempropagandakan formula tersebut agar terus melekat pada diri mereka. Formula politik ini pun digunakan manakala terjadi pergeseran antar elit. Misalnya terjadi perubahan era akibat modernisasi. Dua elit aristokrat berupaya terus berkuasa. Satu elit menggunakan formula tradisional untuk tujuan konservasi masyarakat, sementara elit lain menggunakan formula demokratik untuk menarik massa baru. Terjadi pertempuran formula yang masing-masing pihak memiliki kesempatan menang sejauh berapa besar kekayaan mereka bisa dialokasikan untuk propaganda dan seberapa besar massa rakyat mampu mereka pengaruhi. Formula politik inilah yang menjadi “citra” dalam hampir setiap kontes pilpres maupun pileg. 

Sumber Bacaan

Birch, Anthony Harold. The Concept and Theories of Modern Democracy. London and New York: Routledge, 2001.
Bellamy, Richard. “Development in Pluralist and Elite Approaches.” Dalam Kate Nash and Alan Scott. The Blackwell Companion to Political Sociology. Malden: Blackwell Publishing, 2004.
Hartmann, Michael. The Sociology of Elites. Oxon: Routledge, 2007.  
Krauss, Jeffrey. “Mosca, Gaetano.” George Thomas Kurian, eds. Encyclopedia of Political Science. Washington: CQ Press, 2011.

Reactions

Posting Komentar

0 Komentar