Ad Code

Utilitarianisme Jeremy Bentham

Utilitarianisme seperti dipikir Jeremy Bentham punya pengaruh signifikan atas Demokrasi Westminster Inggris saat ini. Bersama John Stuart Mill, Jeremy Bentham mengibarkan konsep greatest happiness for the greatest number. Artikel singkat ini hendak menelisik gambaran besar gagasan Bentham atas politik.


Siapa Bentham Sebenarnya?


Jeremy Bentham (1748 – 1832) lahir 15 Februari 1748 di Houndsditch, London. Usia 7 tahun ia masuk Westminster School. Usia 12 tahun mengambil sarjana di Queen’s College, Oxford dan tahun 1764 ia menggondol kesarjanaan hukum. Tahun 1767 (usia 15 tahun) ia dipanggil masuk profesi advokat. Bentham tidak menjalani profesi hukum, tetapi kelak ia yang mereformasinya. Bentham memandang dirinya sebagai eksponen Abad Pencerahan. Bentham hampir hendak mereformasi segalanya.


Jeremy Bentham
Sumber Foto:
https://ethics.org.au/big-thinker-jeremy-bentham/


Prinsip Bentham adalah utility (kemanfaatan) sebagai fundasi utama moralitas dan pemisahan tegas antara kritisisme normatif dengan deskripsi dan analisis logis yang ia pegang berdasarkan perhatiannya atas sifat hukum. Akibatnya, ia hadir sebagai pendiri yurisprudensi analitis dan utilitarianisme. Karya terpentingnya adalah Of Laws in General, A Fragment of Government (publikasi tahun 1776), dan An Introduction to the Principles of Morals and Legislation (publikasi tahun 1789), Principles of International Law (publikasi tahun 1798), Catechism of Reformers (publikasi tahun 1809). Tahun 1824 Bentham membantu pendirian jurnal bertajuk Westminster Review, jurnal bermuatan radikal filosofis. Gagasannya mengenai demokrasi termuat dalam karya (yang belum selesai) Constitutional Code. Di karya ini, Bentham mendukung reformasi politik, penghapusan monarki, penghapusan House of Lords, dan mendorong pendirian gereja. Gagasan Bentham lainnya adalah wanita seharusnya diberikan hak pilih, sementara pejabat pemerintah harus diseleksi lewat pengujian kompetitif.

Masih banyak karya Bentham, berupa manuskrip, yang belum dipublikasikan. Tulisannya hampir meliputi seluruh subyek yang bisa diamati. Karya-karya yang belum dipublikasikan tersebut meliputi rencananya mereformasi bahasa dan logika, desain dan reformasi penjara, prosedur parlementer, sejumlah aspek kebijakan ekonomi dan sosial. Bahkan, ada juga skema untuk membuat frustrasi para musuhnya.

Hal menarik adalah Skema Panopticon, yaitu desainnya untuk mereformasi penjara. Panopticon berarti “all-seeing” yaitu model penjara yang dirancang saudaranya, Samuel Bentham, yang modelnya mirip lingkungan pabrik. Dalam skema Panopticon, sipir dapat mengawasi tahanan tanpa si tahanan mengetahui bahw ia tengah diawasi. Idenya adalah, penjara yang dijalankan swasta di mana ia sekaligus berwujud pabrik dan sekolah untuk kebajikan. Tahanan akan diajarkan keahlian yang nantinya dapat digunakan selepas masa hukuman. Nama penjara swasta yang digagas Bentham ini adalah Panopticon Penitentiary yang berlokasi di Milibank, London, tahun 1794.

Kritikusnya menganggap ide Bentham ini sebagai sisi manipulatif dari Abad Pencerahan. Maksud Bentham adalah upaya menghaluskan tata cara perlakuan atas narapidana sebagaimana berlangsung di Inggris saat itu. Namun, upayanya mendapat perlawanan dari pemerintah. Semenjak itu, Bentham membantah bahwa pemerintah selalu netral dalam menghadapi perubahan reformasi radikal. Bentham mulai melihat bahwa pemerintah adalah mesin dari “kepentingan kaum sinis”sehingga wajib dikontrol dan diawasi oleh warganegara. Pengalaman ini mendorong Bentam untuk melakukan reformasi demokrasi representatif Inggris.

Peristiwa berawal tahun 1791 di mana Bentham melelakkan skema Panopticonnya di sebelah William Pitt (perdana menteri Inggris). Kendati awalnya sulit mendapat dukungan parlemen, Pitt akhirnya mensukseskan usulan Panopticon Bentham di parlemen. Namun, kendati parlemen menyatakan persetujuan, perlawanan dilakukan dua keluarga bangsawan kuat, Spencer dan Grosvenor. Akibat pengaruh kedua keluarga tersebut kuat di parlemen, gagasan Bentham menjadi makszul. Alasan dari kedua keluarga kuat tersebut, bahwa rencana Bentham merumahkan para kriminal di pabrik akan mengurangi nilai properti dalam rencana bisnis yang telah mereka susun sebelumnya.

Bentham dikenal sebagai eksponen Utilitarianisme. Utilititarianisme adalah suatu doktrin yang menilai kelayakan suatu tindakan, kebijakan, keputusan, dan pilihan dalam terminologi kecenderungan mereka mempromosikan kebahagiaan atas rakyat yang terkena dampaknya. Bentham adalah personal yang kurang umum di Inggris saat itu: setengah jenius, setengah sinting, sangat rajin, mampu menginpirasi rasa cinta dan loyalitas pada rekan-rekannya. Finalnya, ia menyerahkan tubuhnya untuk kebutuhan riset ilmiah, dan itulah yang menyebabkan hingga hari ini, muminya masih terdapat di University College, London, universitas mana yang juga turut ia bangun.

Pelajaran yang dipetik Bentham dalam kasus Panopticon, adalah adanya kepentingan seksionalis (sectional interest) seperti diwakili Spencer dan Grosvenor. Ada kemungkinan mereka gunakan aparatus negara untuk mengejar kepentingan privat mereka kendati berhadapan dengan kepentingan publik. Sebab itu, pemerintah dianggap Bentham kekurangan akuntabilitas dan birokrasi yang diakui. Hingga akhir masa hidupnya, hal-hal mengenai penciptaan negara dan birokrasi moderen adalah tema utama tulisannya, terutama sejak 1809. Sejak tahun itu, Bentham menjadi associate John Mill (ayah John Stuart Mill) dan mendirikan kelompok Philosophic Radicals.


Pemikiran Bentham tentang Psikologi Manusia


Utilitarianisme yang dikembangkan Bentham lebih cocok disebut classical utilitarianism. Ada tiga elemen fundamental dalam utilitariannya ini. Pertama, adalah hedonisme psikologis. Bagi Bentham, semua manusia berupaya mencapai maksimalisasi kesenangan atau kebahagiaan. Ini mungkin mengingatkan kita pada filsafat Epicurean di era filosof alam Yunani. Manusia dikuasai oleh dua penguasa daulat yaitu derita dan kesenagan. Derita dan kesenangan ini harus jadi pertimbangan atas apa yang seharusnya kita lakukan sama seperti apa yang akan kita lakukan.

Kedua, utilitarianisme menempatkan kesenangan atau kebahagiaan sebagai komoditas tertinggi. Setiap orang mencari kesenangan sebagai tujuan akhir, bukan sebagai cara mencapai tujuan itu. Istilah “baik” ataupun “buruk” bagi Bentham terpulang pada apa yang kita rasakan saat tertimpa sesuatu, kesenangan atau penderitaan. Bagi Bentham pula, semua kesenangan sifatnya sama saja. Sehingga, apa yang manusia cari bukanlah kualitas tertinggi tetapi kuantitas kesenangan yang terbesar (greatest quantity of pleasure). Bagaimana Bentham memaknai pleasure atau kesenangan itu? Ia mendaftar sejumlah hal seperti senangnya merasa, membaui, dan menyentu. Juga seputar kekuasaan, melihat orang yang kita sayangi merasa senang. Dengan demikian, makna kesenangan yang dimaksud Bentham cukup berbeda dengan apa yang dimaksud Epicurus.

Ketiga, utilitarianisme menjadi teori tindakan. Jika kesenangan adalah kebaikannya, maka tindakan yang juga benar adalah yang memaksimalkan kesenangan dan meminimalisasikan derita. Sebaliknya, jika kesenangan adalah kebaikannya, tindakan yang salah adalah yang memaksimalkan penderitaan dan meminimalisasikan kesenangan. Kesenangan dan penderitaan adalah kriteria penentu apa yang seharusnya kita lakukan.

Dari psikologi hedonis, Bentham mengelaborasi ke level relasi publik. Kesenangan dan penderitaan harus diarahkan pada entitas yang tepat. Jika yang menjadi sasaran tindakan adalah satu orang, maka tindakan yang benar adalah apa dianggap kesenangan atau penderitaan bagi individu tersebut. Jika entitasnya adalah komunitas (masyarakat), maka standar benar dan salah bukanlah kesenangan atau penderitaan satu atau dua individu khusus melainkan komunitas sebagai keseluruhan. Apa yang dirasakan komunitas ini beda antara Bentham dan Rousseau. Bagi Rousseau, volonte generale bukan jumlah kehendak seluruh individu disatukan melainkan adanya satu kehendak yang sifatnya mengatasi kehendak individu. Dalam cara pandang Bentham “volonte generale” Rousseau adalah absurd karena ada satu kehendak yang “lepas” dari individu. Bagi Bentham yang ada di dalam komunitas adalah individu. Sebab itu, dalam rangka menemukan tindakan yang benar atau salah dari sudut pandang komunitas, kita harus menemukan apa dampaknya bagi kesenangan total di dalam agregat individu yang menjadi anggota komunitas itu. Semua kesenangan individu dalam komunitas harus dihitung sehingga akan terbitlah legislasi terbaik yang hendak disusun komunitas tersebut.

Bentham mengembangkan felicific calculus (juga kerap disebut hedonic calculus ). Jika menghadapi suatu pilihan, langkah yang tepat adalah berhitung apakah dampak yang terjadi: kesenangan ataukah penderitaan? Ada tujuh hitungan hedonic calculus Bentham yaitu: (1) intensitas; (2) durasi; (3) propinquity (kedekatan atau keterpencilan waktu pencapaian); (4) kepastian; (5) fecundity (seberapa besar dampak nikmat dan derita setelah pilihan dipiliih?); (6) kemurnian (apakah pilihan menyenangkan punya konsekuensi menyakitkan?); dan (7) tingkat (berapa banyak orang mengalami kesenangan atau penderitaan pasca suatu tindakan dieksekusi?) Bagi Bentham, ke-7 dimensi ini tidak perlu diterapkan seluruhnya bagi warganegara bisa. Namun, jika legislator (pembuat undang-undang) mencamkan ke-7nya saat mereka membuat keputusan, maka akan tercapailah tujuan sejati dari pembuatan legislasi “the greates happiness of the greatest number.”

Bentham juga menolak klaim hak-hal alamiah seperti dislogankan oleh Revolusi Perancis. Perlu diketahui, bahwa Revolusi Perancis berlangsung anarkis. Mengenai hak-hak mereka yang “katanya” alamiah, kaum Revolusioner Jacobin sekadar melontarkan lewat retorika-retorika orasi tanpa dalil tertulis yang bisa ditelaah obyektif. Sebab itu, Bentham menyatakan “hak-hak alamiah” adalah “omong kosong.” 'Hak alamiah yang tidak bisa dijelaskan adalah 'omong kosong di atas panggung'. Ia percaya bahwa kepentingan pihak yang diperintah hanya akan terjamin baik lewat pembentukan hak-hak yang secara eksplisit disebutkan lewat sistem hukum.


Bentham dan Demokrasi Representatif


Lewat karyanya Plan of Parliamentary Reform (publikasi tahun 1817) Bentham menyatakan keyakinannya atas kebajikan Demokrasi Representatif. Syaratnya adalah ada hak pilih universal, kotak suara rahasia, dan parlemen tahunan. Bentham juga dikenal sebagai perintis konsep welfare state. Bentham percaya bahwa legislasi harus menjamin masalah subsisten manusia (pangan, sandang, papan), keamanan, kesejahteraan, dan kesetaraan. Bentham juga rajin berdebat agar ada aturan mengenai jaminan bagi si sakit, upah minimum, reformasi hukum pembuktian, rekrutmen layanan sipil lewat pengujian kompetitif, juga penghapusan pidana penjara akibat berhutang. Keyakinan Bentham adalah menyingkirkan dampak merusak tahayul dan adat dari lapangan legislasi, lalu menggantikannya dengan moralitas dan yurisprudensi dengan posisi tegak.

Mengenai demokrasi, Bentham ada di posisi perluasan hak suara menyeluruh. Ia juga banyak menaruh perhatian atas rincian struktur kelembagaan negara moderen. Pandangan Bentham atas demokrasi perwakilan adalah perlawanannya atas sinister-interest (kasus Panoptical, yang melibatkan 2 keluarga bangsawan berpengaruh). Sinister-interest terjadi manakala kelompok istimewa (bangsawan kuat misalnya) mampu menggolkan kepentingan seksional atau kelembagaan mereka di atas kepentingan publik. Bentham juga curiga bahwa pejabat pemerintah berpotensi terpisah dari kelompok yang diperintah (rakyat). Begitu mereka terlepas, maka kepentingan mereka tidak lagi identik dengan kepentingan rakyat melainkan kelompoknya. Hal ini mirip dengan keberatan Rousseau atas para magistrat yang menyusun undang-undang, yang segera begitu terpilih, mereka melepaskan diri dari kepentingan pemilih untuk kemudian mengejar kepentingan pribadi mereka.

Bagi Bentham, solusi keterpisahan kepentingan ini adalah mengkondisikan agar kepentingan pemerintah serupa dengan kepentingan publik yang diperintah. Salah satu jalan untuk ini adalah perluasan hak pilih universal. Syarat ikut pemilu dari Bentham adalah kemampuan baca-tulis, agar pemilih bisa membaca kertas suara.

Namun, bagi Bentham demokrasi representatif bukan melulu pelembagaan pemilu (perluasan hak pilih, kemampuan membaca kertas suara). Bentham melansir peran opini publik atas budaya pemerintahan. Sebab itu, Bentham amat membela intrusi pers untuk bersuara merdeka dan mengamati perilaku pejabat publik. Lewat pers, maka suara greatest happiness of the greatest number bisa terdengar. Hak-hak menyatakan pendapat ini bagi Bentham harus terjamin di dalam konstitusi.


Penutup


Pemikiran Bentham adalah transisi ke arah demokrasi representatif moderen. Posisi Bentham adalah seorang liberal, tetapi ia punya kecenderungan sosialis dengan intervensi pemerintah atas kalangan yang marjinal secara ekonomi dan sosial. Pernyataan Bentham mengenai pemerintah wajib memberi jamiman upah minimum, jaminan bagi si sakit adalah anomali dalam pemikiran kalangan liberal kala itu. Sejumlah gagasan Bentham seperti kebebasan pers, jaminan kesehatan, upah minimum (plus jam kerja), pelatihan di rumah penjara (juga kamera CCTV), constituency work, serta hak pilih universal untuk wanita tercapai setelah masa hidupnya.

Sumber Bacaan

Paul Kelly, “Bentham” dalam David Boucher and Paul Kelly, eds. Political Thinkers from Socrates to the Present (Oxford: Oxford University Press, 2003) pp. 307-23.

John Hoffman, A Glossary of Political Theory (Edinburgh: Edinburgh University Press, 2007) Pp. 16-7.

Ian Adams and R. W. Dyson, Fifty Major Political Thinkers, Second Edition (London and New York: Routledge, 2007) pp. 106-11.
Reactions

Posting Komentar

0 Komentar