Ad Code

Politik Nature dan Nurture


Para penstudi ilmu politik tentu tidak asing dengan pendekatan sistem politik David Easton seputar input-proses-output. Kendati tentu dipengaruhi sosiolog Robert K. Merton dalam memandang dimensi hubungan sosial secara organis, Easton lebih lanjut mengembangkannya ke pendekatan yang dikhususkan pada kajian politik.
 
Juga tentu dalam pendekatan Easton atas sistem politik, kita mengenali empat lingkungan intrasocietal yang mempengaruhi kinerja sistem politik: Sistem ekologi, sistem psikologi, sistem sosial, dan sistem biologi. Khusus mengenai yang terakhir sesungguhnya Easton mengarah pada studi Biopolitik Neo-Darwinian atau Biopolitik Saintifik. Mengenai Biopolitik, David Easton menyatakan:

from the point of view of the continuing development of general political theory, the biological basis of political behavior has a significant contribution still to be made … It goes to the heart of my concern with biopolitics as a developing subfield … if the history of the addition of past subfields to political science is any guide, we can expect a rapid acceleration of interest in biopolitics.”[1]
[ … dari sudut pandang pembangunan teori politik umum secara berkesinambungan, basis biologis dari perilaku politik punya kontribusi signifikan yang masih dalam proses penyusunan … Ia menyita perhatian saya dengan biopolitik sebagai sub kajian yang dalam proses pengembangan … jika sejarah penambahan sub kajian ilmu politik dapat dilakukan, kita dapat berharap akselerasi cepat atas daya tari biopolitik.]
 
Sebagai sebuah sub kajian dalam ilmu politik, Easton menyatakan Biopolitik sebagai sebuah pendekatan yang punya kesempatan besar untuk terus berkembang. Bagi David Easton:

In fact I have been able to identify at least four kinds of latent approaches towards explaining the relationship of biology to politics ... The first mode of explanation to which I would draw your attention I shall call biological reductionism ... A second type of explanation is represented in what I shall call biological determinism ... There is a three mode of explanation. It seeks to demonstrate the biological impact by describing what I shall call the organic limits to human behavior ... The fourth and final kind of explanation of biological linkages to politics can be found in the work that has been going on Stony Brook ... Our interest in biology arises non out of the consequences that varying states of the body will have for political behavior but because these varaying states may provide us with better indicators and measures of observable political attitudes and actions.[2]
[Faktanya, saya telah mampu mengidentifikasi setidaknya empat jenis pendekatan laten guna menjelaskan hubungan antara biologi dengan politik ... ... Modus penjelasan pertama yang saya ingin anda tertarik memperhatikannya adalah apa yang saya sebut sebagai biological reductionism ... Modus penjelasan kedua ditampakkan dalam apa yang saya sebut sebagai biological determinism ... Juga terdapat modus penjelasan ketiga. Penjelasan ini berupaya mendemonstrasikan dampak biologis lewat upaya penggambaran apa yang saya sebut pembatasan yang sifatnya organis atas perilaku manusia ... Modus penjelasan keempat dan terakhir dari hubungan biologi dengan politik dapat ditemukan dalam karya yang tengah ditulis Stony Brook ... Ketertarikan kita pada biologi muncul bukan dari aneka kondisi tubuh terhadap perilaku politik, tetapi karena aneka kondisi tersebut memberi kita sejumlah indikator dan ukuran yang lebih baik atas aneka sikap dan tindakan politik bisa diamati.]
 
Pendapat Easton di atas diajukan tahun 1976, saat sub kajian Biopolitik ---yang dieksekusi Research Committee 12 pimpinan Albert Somit dari International Political Science Association --- diakui sebagai salah satu subfield dalam Ilmu Politik. Pendapat Easton tersebut adalah masukannya atas sub kajian Biopolik.

Sementara itu, Biopolitik sendiri mendefinisikan politik secara khas, yaitu mengaitkan antara aspek alamiah (nature) dengan budaya (nurture). Roger D. Masters mendefinisikan politik dan perspektif Biopolitik sebagai keterkaitan antara:

behavior that simultaneusly partakes of the attributes of bonding, dominance, and submission (which the human primate shares with many other mammals) and those of legal or customary regulation of social life (characteristic of human groups endowed with language) …. Political behavior … comprises actions in which the rivalry for perpetuation of social dominance and loyalty impinges on the legal or customary rules governing a group …. political science has a peculiar status; for it lies at the intersection of ethology and anthropology --- or, more braadly, at the point where the social and natural sciences meet.”[3]
[...perilaku yang secara simultan mengambil atribut ikatan, dominasi, dan penyerahan (yang secara bersama dimiliki baik oleh primata manusia maupun banyak mamalia lain) dan regulasi legal atau kebiasaan kehidupan sosial (karakteristik kelompok manusia yang sangat terbantu dengan kemampuan bahasa)…. Perilaku politik ... terdiri atas aneka tindakan di mana persaingan untuk mempertahankan dominasi dan kesetiaan sosial berdampak pada terbitnya aturan hukum atau adat yang mengatur kelompok…. ilmu politik memiliki status khusus; sebab itu (ia) terletak di persimpangan antara etologi dan antropologi --- atau, secara lebih luas, pada titik di mana ilmu-ilmu sosial dan alam bertemu."]
 
Aspek alamiah politik bagi Masters adalah keterlibatan manusia secara terus-menerus dalam hal ikatan, dominasi, dan submisi di dalam kelompoknya. Namun, secara khas Biopolitik memandang bahwa aspek-aspek ini tidak melulu dimonopoli manusia melainkan kelompok primata besar lain yang diamati lewat studi etologi. Studi etologi adalah studi yang khusus mengamati perilaku hewan, umumnya primata besar (gorilla, bonobo, simpanse, dan orangutan) dan mencari kemiripan kasarnya (repertoar) dengan perilaku manusia dari sudut pada evolusi.

Namun, Masters memandang bahwa manusia punya perbedaan dengan kelompok primata lain karena kemampuan manusia dalam berbahasa. Sebab itu, politik kelompok manusia bagi Masters melibatkan aturan hukum (legal) ataupun adat istiadat yang mengatur kehidupan sosial, dan ini merupakan aspek nurture yang membedakan kelompok manusia dengan primata besar non manusia, karena kedua hal ini (aturan hukum dan adat istiadat) hanya bisa diwujudkan lewat bahasa.

Masters lalu menjelaskan bahwa perilaku politik individu terdiri atas aneka tindakan yang berkenaan dengan persaingan terus-menerus dalam memperebutkan dominasi dan loyalitas sosial. Guna mengatur perebutan yang sifatnya alamiah ini, manusia menciptakan hukum dan adat istiadat. Namun, karena sifatnya alamiah, peristiwa persaingan memperebutkan dominasi dan loyalitas sosial pun terus-menerus dilanggar oleh manusia, baik secara individu maupun kelompok. Singkatnya, upaya pencarian dominasi dan loyalitas adalah abadi di kalangan kelompok manusia.

Dalam logika Masters, dua aspek individualitas manusia yaitu nature dan nurture berjalan beriringan. Nurture atau budaya dikembangkan oleh kelompok manusia tidak lain guna mengatur kecenderungan alamiah (nature) manusia yang secara genetis cenderung saling bersaing satu sama lain.

Pandangan lain atas biopolitik juga diajukan oleh Glendon Schubert, yang menurutnya:

politics deals with the sociopsychological processes of human individuals and groups seeking to influence or control others who are not closely related to them in regard to any questions about which humans are, or might become, interested … When the units of social structure become sufficiently large and diverse to encompass many different consanguinous (extended family) subunits in cooperation or competition with each other for control over the policies that are important for the group overall, then it is possible to recognize the beginning of political behavior.”[4]
[... Politik berkaitan dengan proses sosiopsikologis individu dan kelompok manusia yang berusaha untuk mempengaruhi atau mengendalikan orang lain (dimana yang hendak dipengaruhi atau dikendalikan ini) tidak terkait erat dengan mereka dalam sejumlah pertanyaan apa pun mengenai siapa manusia adanya, atau mungkin jadi, hal yang menarik bagi mereka ... Ketika unit-unit struktur sosial menjadi cukup besar dan beragam akibat mencakup beragam subunit consanguinous (keluarga besar) yang berbeda dalam kerja sama atau persaingan satu sama lain dalam mengendalikan kebijakan yang penting bagi kelompok tersebut secara keseluruhan, maka dimungkinkan untuk mengenali awal mula munculnya perilaku politik.”]

Bagi Schubert, politik berkenaan dengan aneka proses sosiopsikologis individu dan kelompok manusia. Dari sini Schubert mendefinisikan politik dari perspektif mikro-politik, karena aspek sosiopsikologis sangat berkenaan dengan dimensi subyektif individu ataupun kelompok terhadap pihak lain.

Kemudian Schubert melanjutkan bahwa proses sosiopsikologis tadi ada di dalam kerangka pencarian pengaruh atau kendali atas pihak lain yang dianggap tidak terlalu dekat hubungannya dengan mereka, baik dalam pengertian siapa manusianya ataupun hal yang diatur. Bagi Schubert, kedekatan hubungan kekerabatan memunculkan suatu keyakinan dalam diri individu atau kelompok bahwa mereka adalah bagian dari dirinya sendiri, dikenali, tidak asing, sehingga secara alamiah bukan target dari aneka tindakan politik. Tindakan politik hanya ditujukan terhadap pihak lain yang bukan dianggap bagian dari satu individu atau kelompok (asing, tidak terlalu dikenal). Sebab itu, lanjut Schubert, politik hadir manakala unit-unit struktur sosial membesar dan beragam yang melintasi aneka subunit consanguinos (keluarga yang diperluas). Aneka subunit ini bisa saling bekerjasama maupun bersaing satu sama lain untuk mengendalikan kebijakan kelompok maupun lintas kelompok secara keseluruhan.

Schubert mengaitkan apa yang natural (kekerabatan berdasarkan genetik, keluarga) dengan yang kultural (kekerabatan yang tidak terlalu dekat, sehingga membutuhkan pengaturan tersendiri). Dua aspek ini serupa dengan apa yang telah disebutkan Masters mengenai atribut, kendati punya titik tekan berbeda. Namun, baik Masters maupun Schubert sepakat bahwa politik berkenaan dengan aspek mikropolitik (individu atau kelompok), di mana terjadi proses persaingan, kooperasi, dominasi, submisi, yang sifatnya natural dengan kesepakatan dan pembuatan aturan bersama, yang sifatnya nurture. Kesamaan lain dari Masters dan Schubert adalah pandangan mereka bahwa politik, kendati berlokus di masyarakat atau negara, harus dipandang dari perilaku politik individu ataupun kelompok yang tidak boleh melepaskan aspek perilaku alamiah manusia.

Dalam biopolitik, perilaku politik manusia kerap dianalisis secara mikro-politik. Sebagai individu, manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Perpaduan pengaruh gen dengan lingkungan ini salah satunya dijelaskan oleh Robert H. Blank and Samuel M. Hines. Blank and Hines menyebutnya Interactive Brain Model Behavior yaitu :

According to an expanded interactive model … the brain is the key mediator of both genetics and the environment for the individual. Brain chemistry increasingly is being found as critical to our understanding of behavioral patterns, personality, and a range of individual capabilities. Neuroscience, therefore, offers an indispensable tool by which to explain why we are, what we are, and how we might make improvements on what we are. The brain provideds a focus for analysing the rich combination of genetic, environmental, and ultimately neural factors the define what we are. Unlocking the secrets of the brain is the key to explain not only why we differ from other species but also to understanding variation among human. [5]
[Menurut model interaktif yang diperluas ... otak adalah mediator utama antara faktor genetis dan lingkungan suatu individu. Kimia otak dipahami sebagai unsur kritis bagi upaya kita memahami tentang aneka pola perilaku, kepribadian, dan berbagai kemampuan individu. Neuroscience, oleh karena itu, menjadi alat yang sangat diperlukan untuk menjelaskan mengapa kita berperilaku tertentu, apakah kita ini, dan bagaimana kita dapat melakukan perbaikan pada eksistensi kita. Otak menyediakan fokus untuk menganalisis kombinasi kaya antara faktor genetik, lingkungan, dan akhirnya faktor saraf yang menentukan seperti apakah kita. Pembukaan rahasia otak adalah kunci untuk menjelaskan tidak hanya mengapa kita (manusia) berbeda dari spesies lain tetapi juga untuk memahami variasi di antara spesies manusia itu sendiri."]
 
Bagi Blank dan Hines, otak (brain) perlu rangsangan dari lingkungan (environment) yang bersifat konstan agar bisa berkembang. Tanpa input yang sensorik dan tantangan intelektual maka potensi alamiah otak yang sifatnya nature tidak bisa dicapai. Perkembangan otak ini selain perlu rangsangan environment juga dipengaruhi oleh faktor genetik.[6] Blank dan Hines mengajukan skema sederhana seputar interaksi antara faktor genetics, lingkungan, otak, dan perilaku sebagai berikut:[7]
 
Faktor genetik berkaitan dengan unsur bawaan yang cetak birunya terdapat dalam DNA, dan ini dapat diselidiki melalui jalan panjang genealogi keturunan satu individu dan asal-usul (keluarga, tempat lahir, suasana umum yang melingkupi keluarga batihnya). Namun, kalangan Biopolitik menganggap bahwa gen dapat berubah manakala ia melakukan interaksi dengan lingkungan, yang ditandai oleh dua garis horisontal resiprokal. Hasil interaksi antara gen dengan lingkungan memunculkan unsur baru yaitu fenotip, adaptasi gen atas lingkungan dan ini mempengaruhi genotip manusia. 
 
Gen yang sudah berinteraksi dengan lingkungan tetap berada dalam DNA (juga struktur sel otak) tetapi telah mengalami perubahan sehingga disebut sebagai genotip, yang sifatnya tetap sampai ada fenotip baru yang mengubahnya. Genotip inilah yang membuat manusia berevolusi dengan akibat pengaruh lingkungan dan sebagiannya mempengaruhi otak. Di sisi lain, pengaruh lingkungan juga memberikan pengaruh kepada otak. Hasil pengaruh genetik (yang sifatnya tertutup tetapi tidak steril dari pengaruh fenotip) dan lingkungan inilah yang menentukan tindakan manusia. Tindakan manusia akibat pengaruh dari dua aspek ini yang membuat manusia satu memiliki persamaan sekaligus perbedaan perilaku. Sebab itu, simpul Blank dan Hines, otak adalah mediator utama yang juga bergantung pada aspek genotip individu dan lingkungan di mana individu beraktivitas.

Teori Blank dan Hines mengenai Interactive Brain Model of Behavior dapat diaplikasikan oleh kalangan Biopolitik (Blank dan Hines juga eksponen pendekatan ini) dalam menganalisis perilaku seorang pemimpin politik. Misalnya studi Arnold M. Ludwig atas 1941 penguasa dari tahun 1900 hingga 2000. Sebab itu, dalam menganalisis perilaku politik manusia, terlebih dahulu seorang peneliti biopolitik harus menganalisis faktor genetiknya, seperti unsur ras, etnis, jenis kelamin, makanan, penyakit yang pernah diderita, emosi, kemampuan intelijensi, special trait yang tidak lepas dari faktor keturunan, dan silsilah keluarga. Penjelasan mengenai faktor ini juga tidak akan cukup tanpa melengkapi dengan lingkungan hidup tempat ia lahir, menikmati masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa, hubungannya dengan keluarga batih dan non batih, agen-agen sosialisasi politik yang sifatnya primer (keluarga, rekan sebaya, agama) dan sekunder (sekolah, organisasi yang pernah digeluti, kondisi sosial, politik, dan ekonomi Indonesia dalam masa lahir hingga dewasa. Juga perlu dilakukan studi atas interaksi antara faktor genetik dan lingkungan, yang kemudian mendorong munculnya kognisi dan emosi yang lalu diproses oleh seorang pelaku politik dan dimanifestasikan ke dalam tindakan-tindakan politiknya.

Interaksi antara faktor genetik dan lingkungan ini juga dipertajam pendapat Robert Bigelow, yang dapat memecahkan masalah hubungan biologis manusia dengan aturan hukum dan kebiasaan sosial:

Laws and social customs are not unnatural impositions from a source somewhere outside biology. They arise from interactions between the cerebral cortex and other parts of a single body, and from interactions between the brains and eyes and ears and vocal cords of different bodies. They are biological results of biological behavior."[8]
[Hukum dan kebiasaan sosial bukanlah pemaksaan tak wajar dari suatu sumber yang berasal dari luar biologi. Mereka (hukum dan kebiasaan sosial) muncul dari aneka interaksi antara korteks serebral dengan bagian lain dari tubuh, dan juga dari interaksi antara otak, mata, telinga, serta pita suara yang merupakan bagian-bagian tubuh dari satu individu. Mereka (hukum dan kebiasaan sosial) adalah hasil biologis dari perilaku biologis."]

Bagi Bigelow, hukum dan kebiasaan sosial muncul sebagai hasil interaksi yang terjadi di dalam otak manusia, yaitu antara korteks serebral dengan bagian tubuh lain dari satu individu. Dengan demikian sangat dimungkinkan aspek pribadi seorang tokoh politik yang sifatnya genetis sekaligus pula mengembangkan dimensi sosial yang ia peroleh berdasarkan persepsi panca inderanya atas lingkungan di sekitarnya.

Setelah acuan teoretis yang diharapkan mampu menjelaskan karakter pribadi seorang politisi, dan secara lebih lanjut mempengaruhi perilaku politiknya, persoalan selanjutnya adalah mencari penjelasan seputar perilaku khas yang ada di seluruh manusia. Persoalan lebih lanjut adalah bagaimana memecahkan masalah lingkungan politik yang melingkupi era kekuasaan seorang tokoh politik.

Untuk itu, perlu dicari penjelasan yang mampu melakukan kategorisasi yang sifatnya spesifik, antara mana yang termasuk aspek nature dan nurture perilaku politik manusia. Persoalan ini akan dipecahkan melalui aneka sumbangan yang telah diberikan studi etologi guna menjelaskan aspek nature dan nurture pada manusia.Persoalan intinya adalah pada aneka kecenderungan alamiah yang dimiliki spesies manusia, dan ordonya primata. Salah satu penjelasan datang dari Fred H. Willhoite, yang menyatakan bahwa:

Yet dominance structures there will be in social groupings of the human species, and therefore discovering methods to make and keep them responsive to the substantive needs and desires of the society as a whole is a perennial dilemma. Although our complex societies have lost the automatic fit between dominance and adaptiveness typical of primate groups in their normal habitats, there has been in man an enormous development of a relevant generalized trait characteristic of nearly all primate species --- the ability to learn how to adapt to varied circumstances. Using that ability and building, no doubt, on our evolved capacity for self-control, men long ago learned and taught the desirability of subjecting the dominant as well as the subordinate to the restraint of custom and then to the more rationalized "rule of law."[9]
[Namun aneka struktur dominasi akan selalu ada dalam pengelompokan sosial spesies manusia, dan karena itu (spesies ini) mampu menemukan aneka cara untuk menciptakan sekaligus mempertahankan responsivitas atas aneka kebutuhan dan hasrat substantif masyarakat sebagai sebuah keseluruhan, dan inilah dilema yang sifatnya abadi. Meskipun suatu masyarakat yang kompleks telah hilang kemampuan penyesuaian otomatisnya antara dominasi dan kemampuan beradaptasi yang tipikal dari kelompok primata di habitat normalnya, telah ada dalam diri manusia perkembangan yang luar biasa dari karakteristik sifat umum yang relevan dari hampir semua spesies primata --- kemampuan untuk belajar bagaimana beradaptasi di berbagai kondisi. Dengan menggunakan kemampuan dan pengembangan itu, tidak diragukan lagi, pada kapasitas kita yang berkembang untuk mengendalikan diri, manusia telah lama mempelajari sekaligus diajarikan keinginan untuk tunduk pada yang dominan sebagaimana memperlakukan subordinat lewat batasan kebiasaan dan kemudian ke "aturan hukum" yang lebih dirasionalisasi.]
 
Dalam proses evolusi, manusia telah kehilangan kemampuan otomatisnya dalam beradaptasi. Namun, secara genetis, kehilangan tersebut digantikan oleh kemampuan manusia dalam belajar, terutama lewat bahasa, dan bahkan melampaui kemampuan primata non manusia karena lebih mampu beradaptasi di aneka kondisi. Kendati telah menemukan cara baru dalam beradaptasi, manusia tetap mempertahankan sifat genetis yang dibawanya dalam proses evolusi. Untuk itu Aristoteles menyatakan "Man, when perfected, is the best of animals; but if he be isolated from law and justice he is the worst of all." ["Manusia, ketika disempurnakan, adalah yang terbaik dari hewan; tetapi jika dia diisolasi dari hukum dan keadilan, dia adalah yang terburuk dari semua."]

Roger D. Masters merangkum suatu studi etologi atas sejumlah primata dan melakukan perbandingan dengan perilaku khas manusia.[10] Hasilnya adalah kesimpulan bahwa terdapat sejumlah perilaku nature yang menggejala baik dalam perilaku primata non manusia maupun manusia. Namun, terdapat pula sejumlah perilaku nurture yang hanya ditemukan pada manusia, di mana primata non manusia tidak memilikinya.[11] Perbedaan antara manusia dan primata non manusia adalah bahwa manusia memiliki 6 kemampuan seperti:

(1)Speech; (2) Size of possible of society; (3) Cultural variation; (4) Law; (5) Agriculture, pastoralism, and industry, dan (6) The centralized state of government ...Among the characteristic primate behaviors that persist in our species are the following (1) Nonverbal communication; (2) The primate behavioral repertoire; (3) Sexual differences in maturarion; (4) Face-to-face groups; (5) Kinship and reciprocity; dan (6) Leadership and social differentiation.

[(1) Bahasa; (2) Ukuran populasi yang mungkin; (3) Variasi kultural; (4) Hukum; (5) Agrikultur, pastoral, dan industri; dan (6) Kondisi pemerintahan yang tersentralisasi] … Di antara sejumlah karakteristik primata yang juga ada di spesies kita adalah sebagai berikut: [(1) Komunikasi nonverbal; (2) Repertoir perilaku primata; (3) Perbedaan seksual dalam kedewasaan; (4) Kelompok yang saling bertatap-muka; (5) Kekerabatan dan hubungan resiprokal; dan (6) Kepemimpinan dan perbedaan sosial.]
 
Persamaan antara manusia dan primata non manusia inilah yang mendorong perilaku politik manusia kerap keluar dari aneka aturan tertulis. Aneka aturan (konstitusi, hukum formal, adat) yang juga innate dalam evolusi manusia kerap dilanggar lalu diubah seiring kehendak manusia yang sifatnya natural.

Persamaan dan perbedaan primata non manusia dan manusia ini pula kemudian mendorong Masters mengajukan teori repertoir perilaku primata dan elemen politik berupa tujuh biogrammar.[12]

Pertama, Bonding, manusia cenderung membentuk pelestarian ikatan dengan anggota lain dari spesies (atau kelompoknya) sendiri, dan sebab itu manusia cenderung mengidentifikasi diri dengan kelompoknya sendiri dan menunjukkan sikap permusuhan dengan outsidernya.[13] Kedua, competition and aggression, saat manusia terlibat dalam interaksi yang kompetitif dalam hal status dirinya di dalam kelompok, perilaku agresif kerap ditunjukkan oleh penantang ketimbang oleh individu yang dominan, dan secara lebih lanjut, competition and aggression ini justru memperkuat ikatan di dalam kelompok manusia.[14]

Ketiga, dispute settlement, reassurance, and sharing, dengan mana respon untuk melakukan penghiburan dan kohesi sosial lebih dicirikan oleh repertoir perilaku perempuan, yang lama ada di bawah bayang-bayang kompetisi dan dominasi, kendati demikian perempuan lebih memandang aneka proses sosial dari sudut pada kedua jenis kelamin. Juga, di kelompok manusia perilaku agonistik dan kompetitif hanya berlangsung sesaat untuk kemudian diterapkan dispute settlement.[15]

Keempat, dominance and social control, hubungan asimetris atas akses menuju sumber daya yang bernilai menunjukkan gejala dominasi dan kendali sosial, tetapi peran pemimpin atau anggota yang dominan di dalam kelompok ditunjukkan dengan melakukan melakukan counterthreat ketimbang ketakukan, sehingga pemimpin juga kerap mempertahankan individu lain terhadap predator (musuh) dan membatasi eksalasi konflik dengan pihak yang statusnya lebih rendah. Secara umum, hirarki dominan dicirikan oleh kelompok sebagai keseluruhan yang tidak bisa direduksi sekadar pada masalah persaingan yang sederhana (misalnya makanan dan pasangan).[16]

Kelima, subordination and flight, sejak respon individual yang memutus suatu perseteruan yang sifatnya kompetitif dianggap memberi keuntungan bersama, perilaku yang diasosiasikan dengan status subordinat atau pengikut merupakan strategi adaptif yang ditemukan di kelompok primata. Kemampuan untuk mengadopsi sikap submisif adalah elemen yang diperlukan dalam proses perkembangan ketimbang kegagalan. Sebab itu, pandangan Hobbesian seputar konflik bertentangan dengan prinsip-prinsip biologi evolusioner.[17]

Keenam, coalition formation and strategic behavior. Perilaku sosial aneka primata non manusia meliputi hal intensionalitas dan pengkhianatan yang menyediakan dasar bagi aneka strategi sosial yang lebih disadari oleh manusia ketimbang primata non manusia. Pembangunan kelompok berdasarkan asas timbal-balik, misalnya, anggota individu dari kelompok primata dapat membentuk koalisi sementara atau permanen yang fungsinya tidak lain untuk meningkatkan stabilitas kelompok.[18] Ketujuh, individual ‘personalities,’ social roles, dan sex. Secara individual, aneka primata berbeda dalam hal respon mereka di suatu peristiwa sosial. Ragam peran sosial, khususnya yang berhubungan dengan jenis kelamin dan usia, dapat diisi oleh aneka individu dengan ‘personalitas’ atau gaya respons yang berbeda. Hasilnya, banyak ragam perilaku manusia yang awalnya dianggap unik kini dapat pula ditemukan di berbagai spesies primata.[19]

Ketujuh perilaku politik ini dapat diimplementasikan guna menganalisis perilaku politik manusia karena akan memberi perspektif yang lebih khas. Lewat ke-7 perilaku tersebut, analisa secara biopolitik diharapkan mampu memberikan informasi yang lebih obyektif tentang perilaku politik kelompok manusia.

Catatan Kaki

[1] David Easton, “The Relevance of Biopolitics to Political Theory” dalam Albert Somit, Biology and Politics (Mouton – The Hague – Paris: International Social Science Council, 1976) p. 238 dan 247. Easton juga mengakui bahwa salah satu subsistem dalam teori sistem umumnya adalah Sistem Biologi dalam lingkungan intrasocietal.
[2] David Easton, “The Relevance of Biopolitics to Political Theory” dalam Albert Somit, Biology and Politics (Mouton – The Hague – Paris: International Social Science Council, 1976) p. 240 – 245. Easton juga mengakui bahwa salah satu subsistem dalam teori sistem umumnya adalah Sistem Biologi dalam lingkungan intrasocietal.
[3] Roger D. Masters, The Nature of Politics, (New Haven and London: Yale University Press, 1989) p. 140
[4] Glendon Schubert, “Primate Politics” dalam Glendon Schubert and Roger D. Masters, eds., Primate Politics (Carbondale and Edwardsville: Souther Illinois University Press, 1991) p. 52.
[5] Robert H. Blank and Samuel M. Hines, Biology and Political Science (London and New York: Routledge, 2001) p. 84 – 85 .
[6] Ibid., p. 85 . Skema ini diambil dari sumber ini. Blank and Hines hanya menyebut Perilaku. Namun, karena konteks pembicaraan keduanya adalah perilaku politik maka peneliti menambahkan kata “politik” atas kata “perilaku.”
[7] Ibid.
[8] Robert Bigelow seperti dikutip oleh Fred H. Willhoite, “Primates and Political Authority: A Biobehavioral Perspective”, American Political Science Review, Vol. 70, No. 4, December 1976, pp. 1125.
[9][1] Aristoteles seperti dikutip oleh Fred H. Willhoite, “Primates and Political Authority: A Biobehavioral Perspective”, American Political Science Review, Vol. 70, No. 4, December 1976, pp. 1125.
[10][1] Studi-studi ini di antaranya adalah Frans de Waal, Chimpanzee Politics: Power and Sex Among Apes, Revised Ed. (Baltimore and London: The John Hopkins University Press, 1998) yang pertama kali terbit tahun 1982; Irenaus Eibl-Eibesfeldt, Human Ethology (London and New York: Routledge, 2017) yang pertama kali terbit tahun 1989; Frans de Waal, Peacemaking among Primates, Sixth Printing (Cambridge and London: Harvard University Press, 2002) yang terbit pertama kali tahun 1989.
[11] Roger D. Masters, “Conclusion” dalam Glendon Schubert and Roger D. Masters, eds., Primate Politics (Carbondale and Edwardsville: Souther Illinois University Press, 1991) pp. 229 – 230
[12] Roger D. Masters, “Conclusion” … , op.cit., p. 234. Istilah biogrammar yang digunakan Masters ini mengacu pada konsep yang dibangun oleh Lionel Tiger dan Robin Fox. Menurut mereka biogrammar adalah aturan untuk memahami bahasa perilaku berupa perangkat aturan biogram yang bisa diperbandingkan. Aturan-aturan ini menggambarkan prinsip-prinsip di mana bahasa perilaku bekerja, meskipun mereka tidak memberikan kepastian tentang apa yang akan dilakukan individu. Biogram sendiri mereka artikan sebagai “seperangkat transaksi yang bisa diprediksi untuk menunjukkan bagaimana mereka (spesies) berinteraksi atau terjadi secara berurutan, bagaimana mereka dapat dimodifikasi, dalam keadaan apa mereka akan diterapkan, dan, akhirnya, bagaimana mereka membantu spesies bertahan hidup. Repertoar total perilaku yang mungkin dari spesies apa pun disebut "biogram." Lihat Lionel Tiger and Robin Fox, The Imperial Animal (London and New York: Routledge, 2017) p. 6.
[13] Roger D. Masters, “Conclusion” …, loc.cit.
[14] Ibid.
[15] Ibid.
[16] Ibid., p. 235.
[17] Ibid.
[18] Roger D. Masters, “Conclusion” …. op.cit., p. 235.
[19] Ibid.
Reactions

Posting Komentar

0 Komentar