Ad Code

Biopolitik Neo Darwinian

Biopolitik Neo Darwinian berbeda dengan Biopolitik Foucauldian. Biopolitik Neo Darwinian fokus pada pengaruh disiplin ilmu biologi terhadap ilmu politik, sementara Biopolitik Foucauldian fokus pada filsafat Michel Foucault tentang negara dan politik yang merasuk ke dalam pikiran, jiwa, dan tubuh individu warganegara. Namun, Foucoult sendiri menolak implikasi pandangan filsafatnya sebagai Biopolitik, sementara para pengikutnya menyebut demikian. Biopolitik Neo Darwinian fokus pada perilaku manusia sebagai individu dalam politik. Beberapa pandangan Biopolitik Neo Darwinian sebagai berikut:

Teori # 1: 

Biopolitik menentang tiga asumsi yang menjadi standar dalam ilmu sosial (termasuk politik) yaitu: (1) Bahwa manusia tidak punya kecenderungan perilaku bawaan; (2) Bahwa sifat manusia murni dihasilkan oleh proses sosialisasi dan pembelajaran atau nurture; dan (3) Bahwa sifat manusia pada dasarnya dapat dibentuk. Guna menentang ketiga asumsi ini, biopolitik menyatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan primata sebagai konsekuensi logis proses evolusi mereka menjadi homo sapiens. Sifat manusia adalah given dan serupa dengan sifat-sifat primata kelas tinggi lainnya. Oleh sebab itu aturan-aturan sosial justru dibuat untuk membatasi atau bahkan menghilangkan sifat-sifat bawaan ini. Biopolitik juga menyatakan sifat dasar manusia adalah sulit – kalau bukan tidak mungkin – dibentuk, serupa dengan upaya mengubah 'tutul' di kulit seekor 'macan tutul' tutur Albert Somit.
Sumber: Albert Somit, "Biology and Political Science" dalam George Thomas Kurian, eds., et.al., The Encyclopedia of Political Science (Washington: CQ Press, 2011) p. 138-9. 

Teori # 2: 

Somit menulis bahwa terdapat kecenderungan serupa antara perilaku politik manusia dengan kelompok primata terdekat manusia (simpanse, gorilla, orang utan), yaitu pola-pola adanya struktur sosial hirarkis yang ditandai adanya dominasi atas dan penyerahan oleh bawah (submission), pencarian status, agresi, egoisme, penolakan selibat, komitmen monogami yang tidak tegas, xenophobia, etnosentrisme, dan favoritisme-nepotistik. 
Sumber: Albert Somit, "Biology and Political Science" dalam George Thomas Kurian, eds., et.al., The Encyclopedia of Political Science (Washington: CQ Press, 2011) p. 138-9. 

Teori # 3:

Dennen melihat pola-pola kehidupan kelompok kera besar tidak jauh berbeda dengan perilaku politik real di mana terjadi stratifikasi sosial, mekanisme dominasi-submisi, perjuangan abadi merebut kekuasaan, upaya pemeliharaan status quo, upaya penghancuran status quo, inherennya konflik kepentingan antarindividu bahkan di dalam unit-unit organis yang sepatutnya bekerja sama. Kajian khusus Dennen di tulisan tersebut dilakukan dalam mengamati hubungan antar kelompok-kelompok kera besar yang sifatnya kompetitif. 
Sumber : Johan M.G. van der Dennen, "The Biopolitics of the Primates" dalam Steven A. Peterson and Albert Somit, eds., Biology and Politics: The Cutting Edge (Bingley: Emerald Group Publishing, 2011) pp. 53.96. 

Teori # 4:

Biopolitik mengasumsikan bahwa perilaku-perilaku primata ini pun terdapat dalam pola perilaku politik manusia sehingga perilaku politik manusia – dari sisi evolutif - serupa dengan kelompok-kelompok primata kelas tinggi harus dianggap warisan genetik yang berasal dari tahap evolusi pra homo sapiens dan ternyata masih berlaku di tahap homo sapiens sapiens. Konsekuensi logis dari adanya warisan genetis ini mendorong para pendukung biopolitik menyatakan nature lebih menentukan perilaku politik ketimbang nurture. Kendati demikian, kalangan biopolitik tetap positif memandang nurture sebagai upaya pembatasan atas unsur-unsur nature kelompok manusia sebagai beban yang tidak bisa ditanggalkan selama proses evolusi.
Sumber : Johan M.G. van der Dennen, "The Biopolitics of the Primates" dalam Steven A. Peterson and Albert Somit, eds., Biology and Politics: The Cutting Edge (Bingley: Emerald Group Publishing, 2011) pp. 53-96.

Teori # 5:

Biopolitik juga memandang proses politik lebih sebagai mekanisme tradeoff bukan solutif. Artinya, dalam setiap proses politik, aktor politik membuat kesepakatan-kesepakatan ataupun melaksanakan undang-undang lebih didorong oleh motif apa yang akan kami peroleh dan apa yang akan hilang dari kekuasaan kami ketimbang benar-benar jujur mencari solusi atas masalah. Egoisme, naluri untuk berkuasa, naluri mendominasi, pengambilan keuntungan di saat-saat sulit, mekanisme koalisi-aliansi, merupakan pola-pola yang juga ditemukan dalam kehidupan kelompok primata yang ditemui persis pada kelompok-kelompok manusia. Stabilitas, menurut kalangan biopolitik, hanya akan terjadi jika sebagian kelompok bersedia menjalani submission atau penyerahan kepada dominasi pihak lain. Selama submission tidak ada, maka tidak akan ada pula stabilitas politik karena naluri dasar manusia dan kelompok manusia adalah agresif, bersaing, dan selalu ingin mendominasi.
Sumber: Johan M.G. van der Dennen, "The Biopolitics of the Primates" dalam Steven A. Peterson and Albert Somit, eds., Biology and Politics: The Cutting Edge (Bingley: Emerald Group Publishing, 2011) pp. 53-96.
Reactions

Posting Komentar

0 Komentar